Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Setelah Anjlok, Harga Serapan Jagung di NTB Capai Rp 4.000 Per Kilogram

Safitri • Rabu, 8 Juni 2022 | 03:40 WIB
Caption Foto :  Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, Fathul Gani.
Caption Foto :  Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, Fathul Gani.
MATARAM, RADARJEMBER.ID - Setelah sebelumnya sempat anjlok, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB Fathul Gani Nusa Tenggara Barat (NTB) memastikan rata-rata serapan harga jagung di wilayah itu mulai membaik.

BACA JUGA : Meski Tiket Pre-Sale Habis di Beberapa Daerah, Hanung Tak Patok Target

"Rata-rata harga serapan jagung petani di NTB saat ini di atas Rp 4.000 per kilogram. Harga tersebut dinilai sudah memberi keuntungan bagi petani, terlebih harga serapan itu jauh di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 3.150 per kilogram," katanya di Mataram, Senin.

Fathul mengatakan, saat ini sejumlah perusahaan sedang melakukan pembelian di lapangan dengan harga di atas Rp 4.000 per kilogram. "Jadi, meskipun usulan ekspor ditolak oleh pemerintah pusat, namun penyerapan komoditas jagung petani dipastikan lancar," ujarnya.

Harga jagung, kata Fathul, di gudang PT Seger misalnya saat ini mencapai Rp 4.200 per kilogram, UD Subur Sumbawa Rp 4.250 per kilogram, UD Pemuda Kreatif di Kabupaten Bima Rp 4.400 per kilogram, dan perusahaan di Kabupaten Dompu Rp 4.200 per kilogram.

"Itu artinya dengan posisi harga Rp 4000-an itu sebenarnya sudah visible sekali. Semua pihak diuntungkan, baik petani jagung maupun perusahaan yang menggunakan bahan baku dari jagung," terangnya.

Fathul mengatakan, selain perusahaan swasta yang melakukan pembelian jagung petani, Perum Bulog NTB juga memiliki penugasan untuk menyerap jagung petani di atas Rp 4.000 per kilogram dengan target sekitar 5.000 ton tahun ini bahkan lebih.

"Bulog secara tahunan memang melakukan itu. Kalau masalah progres pembelian, nanti saya koordinasi dengan Pimpinan Wilayah Bulog, sudah berapa persen realisasinya. Cuma harapan kita, petani jangan buru-buru jual jagung, namun paling tidak proses pasca-panen harus dibenahi," katanya.

Karena,  menurut dia,  dengan sedikit menunda penjualan, maka kadar air jagung di kisaran 14 - 14 persen akan membuat harga jagung lebih tinggi.
"Menunda dalam artian petani memiliki proses penyimpanan yang baik, misalnya memiliki gudang dengan kapasitas lima sampai 10 ton kan. Artinya tidak buru-buru, begitu panen langsung dijual. Para pengusaha juga terkadang melihat kadang air jagung," ujarnya.

Lebih lanjut Fathul mengatakan pada awalnya Pemprov NTB mengusulkan ekspor jagung untuk menormalkan harga jagung di dalam daerah yang sempat turun di kisaran Rp 3.000-an per kilogram. Namun usulan ekspor itu ditolak dengan alasan untuk memperkuat kebutuhan jagung di dalam negeri.
"Karena jika komoditas jagung dipaksakan keluar, maka akan mengganggu pangsa pasar di dalam negeri. Itu yang disampaikan pusat kepada kita," katanya. (*)

 

Editor : Yerri Arintoko Aji

Foto :  ANTARA/Nur Imansyah

Sumber Berita : Antara Editor : Safitri
#PEMUDA