Andhika siang itu tak sendiri. Dia bersama dua pria yang berburu akar bahar berbincang santai di depan rumahnya. Mereka membahas tentang pengetahuan tentang akar bahar di dekat etalase khusus kerajinannya. “Monggo kopinya diminum,” ucap pria yang kemudian menyeruput kopi hitam kental itu.
Akar bahar yang ada di etalase, menurut Andhika, didapat dari bahan mentah. Yaitu berupa tanaman yang berasal dari dalam laut. Ada yang mini seperti ukuran kabel, sedang seukuran jari kelingking, dan ada yang cukup besar seukuran gagang sapu lantai. “Saya dapat bahan mentahnya dari mana-mana. Ada yang dari Makassar, Papua, dan tempat lain,” kata pria dua anak yang tinggal di Perum Villa Ajung Bumi Asri Blok G 09, Lingkungan Klanceng, Desa/Kecamatan Ajung, itu.
Pria itu mengaku belum terlalu lama menggeluti akar bahar. Dulunya, dia sempat berbisnis batu akik hingga tak ramai seperti sekarang, meski tetap ada komunitasnya. Setelah menggeluti batu akik itulah, dia memilih banting setir untuk serius dalam memproduksi akar bahar.
Bagi orang yang mengetahui, bahan mentah akar bahar cukup terbatas karena berasal dari laut. Menurutnya, sebelum menjadi keras, bahannya diproses lebih dulu. Baru kemudian ditentukan, apakah mau dibentuk gelang, kalung, tasbih, pipa rokok, atau kerajinan jenis lain. “Seperti tasbih, di Jember banyak. Saya juga produksi, tapi khusus dari akar bahar,” ucapnya.
Proses pembuatan akar bahar menjadi gelang atau kerajinan lain, kata dia, berbeda dengan kayu-kayu yang lain. Akar bahar harus melalui proses pemanasan alias dibakar. Pada saat panas, kayu menjadi elastis. Pada waktu itulah akar bahar dibentuk hingga menjadi sedemikian ciamik. “Setelah panas, akar bahar ini elastis. Selama saya buat, tidak pernah patah karena lentur,” jelasnya.
Begitu pembentukan akar bahar selesai, akar didinginkan dengan cara didiamkan saja. Dengan sendirinya, akar tersebut kemudian mengeras. “Tinggal dirapikan. Mau akar hitam atau putih, semua bisa. Selanjutnya bisa diberi pemanis. Bisa kuningan, perak, atau yang lain,” ujarnya.
Sejak banting setir tahun 2016 lalu, pria ini tak pernah membuka lapak alias menjualnya di pinggir-pinggir jalan. Dia hanya memanfaatkan kecanggihan teknologi. Seperti menjual daring maupun melalui pesan singkat lewat gawai miliknya. Penjualan juga dilakukan lewat jaringan pertemanan.
Akar bahar selama ini tetap memiliki pangsa pasar yang baik. Apalagi, peminatnya bukan saja dari kalangan kolektor maupun pecinta di dalam komunitas. Sejumlah tokoh juga banyak yang memburunya. Termasuk dari kalangan pesantren, juga banyak orang menggunakan tasbih akar bahar.
Kerajinan ini bukan saja diburu karena keunikannya. Namun, ada kepercayaan tentang keistimewaan akar bahar. Gelang ini dipercaya untuk kesehatan oleh sebagian orang. Juga menjadi penetralisasi energi negatif hingga tolak bala. Namun, terlepas dari itu semua, keunikan kayunya memang cukup menggiurkan bagi para pencintanya. Kayu ini di dunia kerajinan memiliki seni tersendiri dan di antara jenis-jenis kayu juga dinilai sebagai kayu yang cukup berkelas.
Jurnalis : Nur Hariri
Fotografer : Nur Hariri
Redaktur : Mahrus Sholih Editor : Radar Digital