Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kembali ke Desa, Kembangkan Aplikasi Layanan Berbasis Teknologi

Radar Digital • Rabu, 7 April 2021 | 17:15 WIB
PEMUDA DESA: M Miftah, pemuda asal Lojejer, Kecamatan Wuluhan. Lulusan Korsel tersebut membuat aplikasi Desaku untuk menuju smart village di Jember. 
PEMUDA DESA: M Miftah, pemuda asal Lojejer, Kecamatan Wuluhan. Lulusan Korsel tersebut membuat aplikasi Desaku untuk menuju smart village di Jember. 
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Mengenakan topi dan berkacamata, M Miftah Khoirul Fahmi menyapa Jawa Pos Radar Jember. Dia adalah pemuda asal Lojejer yang mendapatkan beasiswa S-2 di Business Administration (MBA), Pukyong National University, Busan, Korea Selatan. Pemuda kelahiran Jember, 19 September 1993, ini menjadi salah satu inspirasi pemuda desa lainnya. Agar mereka berani meraih pendidikan tinggi dan mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Lulus dari Universitas Brawijaya, Malang, Miftah mendapatkan beasiswa S-2 di Korea Selatan. Menuntaskan pendidikan magister di Negeri Ginseng selama dua tahun, sempat membuatnya tidak bisa pulang ke Indonesia karena pandemi. “Baru Februari kemarin bisa balik,” katanya.

Bagi kebanyakan mahasiswa luar negeri, mereka lebih memilih bekerja di luar negeri. Hal seperti ini juga sempat dialami Miftah. Namun, itu hanya singkat. Tidak sampai setahun. Kenapa pulang? Alasannya, dia rindu terhadap ibunya di Lojejer. Baginya, keluarga adalah bagian terpenting. Sebab, dia pernah merasakan kehilangan seseorang yang dia cintai. Ayah Miftah meninggal dunia kala dirinya masih duduk di bangku SMA.

Sepeninggal sang ayah, Miftah mengaku sempat terkendala biaya untuk meneruskan pendidikan sarjana di Universitas Brawijaya. Namun, dia bisa mematahkan kendala itu. Sebab, biaya bukan nomor satu untuk bisa meraih pendidikan tinggi. Biaya ini juga yang kerap menjadi belenggu pemuda lain di kampungnya yang ingin melanjutkan studi.

Selama meninggalkan Jember dan pergi kuliah ke Korsel, dia melihat kondisi desanya begitu-begitu saja. Dia resah dan ingin adanya smart village. Karena itu, bersama rekannya yang masih kuliah di Korsel, Miftah mewujudkan smart village dengan membuat aplikasi berbasis android, bernama Desaku.

Aplikasi tersebut dapat mempermudah masyarakat memproses administrasi desa. “Jadi, membantu proses pengurusan administrasi di desa, termasuk warga desa yang tinggal di luar kota ataupun luar negeri,” jelasnya.

Lewat aplikasi tersebut, desa juga bisa memiliki data digital yang tepat. Termasuk untuk menginventarisasi penduduk yang usianya masuk 17 tahun sebagai syarat memiliki suara di pemilu atau KTP. “Bantuan kemiskinan juga terdata,” tuturnya.

Dia berharap, aplikasi desa itu dapat menjadi peranti lunak yang membantu pemerintah dalam menyalurkan bantuan kepada warga miskin. Dengan konsep melek data, kebijakan apa pun yang dikeluarkan bisa lebih tepat sasaran. “Karena, kalau datanya salah, tidak akan bisa sesuai tujuan,” jelasnya. Dia merasa miris bila melihat pemerintah desa era kini masih memakai pencatatan manual di kertas.

Miftah mengatakan, di Korsel, yang dianggap negara lebih melek teknologi daripada masyarakat Indonesia, kenyataanya teknologi yang dipakai cukup sederhana. “Bukan pakai teknologi canggih semua. Teknologi biasa, tapi diterapkan semuanya,” tuturnya.

Sebagai langkah awal agar aplikasi Desaku tersebut diterapkan, dirinya memberikan aplikasi itu ke lima desa di Jember yang sekaligus menjadi pilot project. Dia berharap, pemerintah desa ke depan bisa membangun wilayahnya lebih baik. Tidak hanya bidang infrastruktur, tapi juga teknologi untuk memudahkan layanan bagi warga desa.

 

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Mahrus Sholih Editor : Radar Digital
#Features