Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Musim Berantakan Tak Mengubah Keyakinan Bagnaia: Desmosedici Tetap Motor Terbaik, Marc Marquez Membuktikannya!

Imron Hidayatullahh • Jumat, 14 November 2025 | 22:10 WIB
Musim 2025 mungkin yang terburuk dalam karir Pecco Bagnaia. Ia hanya menang 3 kali, termasuk sprint, dan tujuh kali tak menyelesaikan balapan (DNF).
Musim 2025 mungkin yang terburuk dalam karir Pecco Bagnaia. Ia hanya menang 3 kali, termasuk sprint, dan tujuh kali tak menyelesaikan balapan (DNF).

Radar Jember - Meski menjalani musim 2025 yang penuh gejolak, Francesco Bagnaia tetap yakin bahwa Ducati Desmosedici masih menjadi motor terbaik di MotoGP.

Keyakinan itu ia sampaikan menjelang MotoGP Valencia, di tengah meningkatnya performa Aprilia, Honda, dan KTM sepanjang paruh akhir musim.

Aprilia mencuri perhatian lewat dua kemenangan Marco Bezzecchi, Honda dua kali naik podium bersama Joan Mir, sementara Pedro Acosta dengan KTM sukses menjadi ancaman tetap dan kini hanya tertinggal tiga poin dari Bagnaia di klasemen.

Namun bagi Bagnaia, bukti paling jelas datang dari satu nama: Marc Marquez.

“Marc menunjukkan potensi motor ini. Dia membuat sedikit kesalahan, dan dia bisa mengunci gelar lima race sebelum musim berakhir,” ujar Bagnaia, dikutip Radar Jember dari laman Crash.

“Motor Kami Masih yang Terkuat”

Dalam konferensi pers menjelang MotoGP Valencia, Bagnaia menegaskan bahwa hasil-hasil Bezzecchi, Mir, maupun Acosta tak mengubah keyakinannya.

“Saya pikir motor kami masih yang terbaik,” tegasnya.

“Benar bahwa saya kesulitan musim ini. Tapi, beberapa tahun terakhir saya selalu kompetitif, bahkan menang sambil membuat banyak kesalahan,” ujarnya.

Pembalap Ducati Lenovo Team itu juga menilai sistem konsesi teknis yang diberikan kepada Aprilia, Yamaha, Honda, dan KTM berjalan efektif—namun tetap tidak menggoyahkan dominasi Ducati secara keseluruhan.

“Pabrikan lain memanfaatkan keunggulan tes dan wildcard dengan sangat baik. Tapi Ducati masih yang terbaik, dan kami menggunakan apa yang kami punya dengan baik,” lanjutnya.

Musim Terburuk Bagnaia: 7 DNF, 3 Kemenangan, dan Kebingungan Total

Jika dibandingkan dengan 2024—saat ia memenangkan 11 race—musim 2025 terasa seperti mimpi buruk.

Bagnaia hanya mengoleksi tiga kemenangan (termasuk sprint) dan mencatat tujuh DNF (did not finish).

Ia bahkan mengaku tak yakin apakah dirinya benar-benar belajar sesuatu dari masa sulit ini.

“Jujur saja, lebih banyak buruknya daripada bagusnya.

Setelah empat musim di mana hasil buruk itu berarti finis ketiga, saya sulit menerima kenyataan musim ini,” ungkapnya.

Bagnaia menyebut motor Desmosedici GP25 sebenarnya sangat kompetitif, namun ia tidak pernah menemukan rasa yang cocok sepanjang tahun.

“Marc menunjukkan potensi motor ini. Tapi bagi saya, semuanya terasa sulit. Saya tak tahu apakah saya belajar sesuatu, tapi yang pasti saya selalu mencoba beradaptasi dan tetap kompetitif,” katanya.

Harapannya kini tertuju pada tes pertama motor 2026, yang digelar Selasa depan setelah balapan Valencia.

“Saya hanya berharap di hari Selasa nanti saya bisa menemukan kembali feeling saya dan bertarung untuk posisi teratas tahun depan,” harapnya.

Kalender 22 Seri: Berat, tapi Bagnaia Tetap Setuju

Musim 2025 menjadi musim terpanjang dalam sejarah MotoGP dengan 22 seri.

Bagi Bagnaia, kalender yang padat terasa lebih menantang karena performanya yang naik-turun, namun bukan sesuatu yang perlu diprotes.

“Secara pribadi ini lebih berat, tapi saya rasa kalender seperti ini adil.

Kami menikmatinya, terutama balapan di luar Eropa,” ungkapnya.

Bagnaia sempat mengakui bahwa tahun lalu ia justru ingin satu balapan tambahan untuk mengamankan gelar, sementara tahun ini mungkin butuh lima race lebih sedikit.

“Ya begitulah. Itu bagian dari permainan,” pungkasnya.

Editor : Imron Hidayatullahh
#HONDA #ktm #aprilia #pecco #Bagnaia #marc marquez #ducati #MotoGP