Radar Jember - Tepat 15 tahun telah berlalu sejak salah satu aksi paling ikonik dalam karier Marc Marquez terjadi.
Tahun 2010, di Sirkuit Estoril, Portugal, dunia menyaksikan sebuah balapan yang langsung menempatkan nama Marc Marquez—saat itu masih pembalap muda di kelas 125cc—sebagai fenomena masa depan MotoGP.
Pada balapan tersebut, Marquez memulai balapan dari posisi ke-11.
Namun sebelum start, ia terjatuh di lap pemanasan, membuat motornya harus dibawa kembali ke pit dan ia terpaksa start dari posisi paling belakang.
Situasi yang biasanya akan mematahkan mental pembalap lain, justru menjadi awal dari salah satu comeback paling dramatis.
Dengan usia baru 17 tahun, Marquez perlahan melakukan comeback luar biasa.
Lap demi lap, ia menyalip satu per satu pembalap hingga masuk ke rombongan depan.
Dalam pertarungan sengit memperebutkan gelar, ia berduel keras dengan Nico Terol, salah satu rival terdekatnya kala itu.
Namun Marquez tidak datang ke Estoril untuk sekadar podium. Ia ingin menang.
Dan ia memenangkannya.
Kemenangan ini menjadi kemenangan terakhir Marquez di kelas 125cc musim itu, sebelum memastikan gelar juara dunia pertamanya di seri berikutnya di Valencia.
Selebrasinya penuh luapan emosi—perpaduan lega, amarah, dan kebanggaan—mencerminkan ketegangan besar yang ia alami sepanjang balapan ulang tersebut.
Musim itu, Marc Marquez menutup tahun dengan 10 kemenangan, menandai awal dari perjalanan menuju status legenda MotoGP.
Editor : Imron Hidayatullahh