Radar Jember - Raul Fernandez akhirnya mencatatkan kemenangan perdana di kelas MotoGP lewat penampilan gemilangnya di Grand Prix Australia.
Namun, di balik keberhasilan itu, ada peran besar tim Trackhouse Racing dan manajer tim, Davide Brivio, yang berhasil mengubah salah satu pembalap paling diragukan di grid menjadi juara sejati.
Dari Pemecah Rekor ke Pembalap yang Tersesat
Nama Raul Fernandez sempat bersinar terang saat masih membalap di Moto2.
Ia bahkan memecahkan rekor kemenangan rookie milik Marc Marquez dengan delapan kemenangan pada 2021.
Namun, begitu naik ke MotoGP bersama Tech3 KTM pada 2022, sinarnya meredup.
Motor yang tidak kompetitif, cedera yang datang silih berganti, dan tekanan besar membuat kariernya seolah jalan di tempat.
Bersama tim satelit Aprilia pada 2023, performanya pun belum menunjukkan tanda kebangkitan.
Dalam empat musim, hasil terbaiknya hanyalah dua kali finis di posisi kelima.
Namun, semua berubah pada Oktober 2025. Setelah podium perdananya di sprint MotoGP Indonesia, Fernandez kembali tampil luar biasa di Phillip Island.
Ia menaklukkan rival-rivalnya, termasuk memanfaatkan penalti ganda bagi Marco Bezzecchi, untuk merebut kemenangan pertamanya di kelas premier.
Kunci Kebangkitan: Percaya Diri dan Konsistensi
Brivio mengakui bahwa keputusan memperpanjang kontrak Fernandez selama dua tahun sempat menuai keraguan.
Terlebih ketika CEO Aprilia, Massimo Rivola, sempat mengkritiknya secara terbuka, dan Trackhouse sempat menguji pembalap Moto2, Manu Gonzalez, di Aragon.
Namun, Trackhouse bersikeras bahwa tes tersebut bukan evaluasi pengganti, melainkan bagian dari misi tim untuk memberi kesempatan bagi talenta muda.
Di balik layar, Fernandez terus bekerja keras dan membenahi banyak hal—termasuk rutinitas fisiknya yang dulu sering diabaikan.
“Tidak ada yang meragukan talentanya,” kata Brivio, dilansir Radar Jember dari laman Crash.
“Kami melihat potensi besar sejak awal. Dia hanya perlu percaya pada dirinya sendiri dan belajar bagaimana bekerja dengan sistem yang benar—cara berkomunikasi dengan kru, memberi masukan yang berguna, dan tetap fokus,” jelasnya.
Menurut Brivio, musim 2025 dimulai dengan sulit.
“Kami kesulitan mencetak poin. Tapi kami terus berbicara dan mencari cara untuk memperbaiki situasi. Dia banyak berlatih selama musim dingin untuk memperbaiki kondisi fisiknya,” tambahnya.
Perlahan tapi pasti, perubahan itu terlihat. Mulai dari Le Mans, Fernandez mulai rutin finis di 10 besar.
Lalu di Aragon performanya menanjak. Target yang semula hanya finis tujuh besar, tiba-tiba berubah jadi podium dua kali berturut-turut—di Mandalika dan Phillip Island.
“Dia tumbuh pesat. Sekarang bukan hanya cepat, tapi juga cerdas dan mampu mengatur balapan dengan baik. Setelah podium di Mandalika, rasa percaya dirinya melonjak, dan itu membantunya meraih kemenangan di Australia,” ujar Brivio.
Trackhouse, Rumah yang Memberi Ruang untuk Percaya
Keberhasilan Fernandez menjadi bukti filosofi Trackhouse yang ingin menumbuhkan pembalap lewat kepercayaan dan stabilitas.
Saat tim lain mungkin sudah kehilangan kesabaran, Brivio dan timnya justru memberikan waktu dan dukungan mental yang dibutuhkan sang pembalap muda.
Kini, kemenangan di Australia tak hanya mengangkat nama Fernandez, tapi juga membuktikan bahwa keyakinan dan kesabaran bisa mengubah karier siapa pun — bahkan pembalap yang dulu dianggap “gagal”.
Editor : Imron Hidayatullahh