Radar Jember - Kemenangan ganda Aprilia di MotoGP Australia semakin memperkuat posisinya sebagai ancaman serius bagi dominasi Ducati.
Ironisnya, saat Marc Marquez absen karena cedera bahu, performa Ducati justru anjlok.
Hal ini memperlihatkan betapa besar ketergantungan tim asal Bologna itu kepada sang juara dunia 9 kali.
Situasi ini sekaligus membuat posisi tawar Marquez dalam negosiasi kontrak baru setelah 2026 kini melonjak tajam.
Mimpi Indah Ducati Berubah Jadi Kekacauan
Padahal, hingga MotoGP Indonesia, musim 2025 berjalan nyaris sempurna bagi Ducati.
Marc Marquez membawa pabrikan Italia itu meraih gelar dunia ketujuhnya di MotoGP—pencapaian bersejarah setelah masa cedera panjangnya.
Namun, absennya Marquez membuat pesta juara itu berubah menjadi krisis performa, terutama di kubu Pecco Bagnaia.
Sang juara bertahan tampil di bawah ekspektasi.
Sejak MotoGP Austria, Bagnaia hanya mengumpulkan 61 poin dan bahkan gagal finis di empat seri terakhir, termasuk di Australia.
“Entahlah apa yang terjadi sejak Austria. Lebih baik saya lupakan saja,” ujar Bagnaia di Phillip Island, menggambarkan keputusasaannya setelah akhir pekan yang disebutnya “tak bisa dijelaskan.”
GP25, Dari Mesin Juara Jadi ‘Troli Tiga Roda’
Yang membuat situasi makin janggal, motor GP25 yang membawanya meraih dua kemenangan di Motegi tak mengalami perubahan berarti.
Ducati bahkan mengutak-atik setelan motor hingga Minggu pagi (19/10) di Australia, tapi tetap gagal menemukan stabilitas.
Dalam sprint race, Bagnaia finis ke-19, tertinggal lebih dari 30 detik dari Marco Bezzecchi dan melaju 2,5 detik lebih lambat per lap.
Motor GP25-nya disebut “seperti troli belanja tiga roda” karena begitu sulit dikendalikan.
Di sisi lain, Fabio Di Giannantonio—dengan motor serupa—justru melesat dan finis kedua meski bertarung sambil menahan demam tinggi.
“Motor banyak bergerak di Phillip Island, tapi saya tetap bisa cepat,” ujarnya santai.
Performa Diggia membuktikan GP25 bukanlah masalah utama—melainkan kepercayaan diri Bagnaia yang benar-benar runtuh.
Aprilia Bangkit, Ducati Tersentak
Kemenangan Raul Fernandez dan Marco Bezzecchi di Phillip Island menunjukkan bahwa Aprilia bukan lagi sekadar kuda hitam.
Ducati bahkan untuk pertama kalinya sejak 2020 gagal menempatkan satu pun motor di barisan depan kualifikasi, dan rekor podium sprint mereka sejak 2023 pun terhenti.
Tanpa Marc Marquez, kekuatan Ducati runtuh di hadapan Aprilia yang semakin solid dan agresif.
Marquez Jadi Raja Meja Negosiasi
Absennya Marquez membuka mata Ducati: tanpa dia, tim kehilangan arah.
Sementara Bagnaia terpuruk, Marquez justru menunjukkan betapa pentingnya perannya dalam menjaga performa tim.
“Kalau Marc ada di sini, mungkin dia sudah di podium. Saya tak bisa hentikan motor ini bergoyang,” aku Bagnaia pasca sprint race di Phillip Island (18/10), dikutip dari laman Crash.
Pernyataan itu menjadi bukti betapa besarnya nilai Marquez di mata Ducati.
Dengan seluruh kontrak pabrikan akan berakhir pada 2026, pasar pembalap tahun depan akan menjadi ajang perebutan besar-besaran.
Ducati ingin mempertahankan Marquez, namun hal itu tidak akan murah.
Sejak pandemi, Ducati menghindari kontrak bernilai besar, tapi kali ini mereka tak punya banyak pilihan.
Marc Marquez memegang semua kartu dalam negosiasi menuju 2027—dan Ducati tampaknya harus menyiapkan cek besar untuk mempertahankannya.
Sebagai perbandingan, Jorge Lorenzo pernah menyebut bahwa nilai kontrak Marc Marquez saat di Honda mencapai 20 juta Euro, atau senilai Rp 280 miliar per musim.
Editor : Imron Hidayatullahh