Radar Jember - Harapan besar Yamaha untuk bangkit lewat mesin V4 justru mendapat penilaian mengejutkan dari Fabio Quartararo.
Dalam tes resmi MotoGP di Misano, Senin (16/9), juara dunia 2021 itu menilai prototipe V4 terasa “lebih buruk” dibanding motor Inline-4 M1 yang selama ini dipakainya.
Tes di Misano menjadi kesempatan pertama Quartararo menjajal serius V4 setelah sebelumnya sempat mencobanya sebentar di Barcelona yang diguyur hujan.
Motor yang digunakannya adalah prototipe yang dipakai Augusto Fernandez sebagai wild-card di MotoGP San Marino.
Namun, hasilnya jauh dari harapan.
Quartararo hanya mencatat waktu terbaik 1m31,781s di sesi pagi.
Menempati posisi ke-18 dan lebih dari satu detik tertinggal dari Alex Marquez (Ducati).
Catatan itu bahkan masih di bawah lap kualifikasi terbaiknya saat merebut front row, meski sedikit lebih cepat dari pace balapnya di akhir pekan.
“Untuk saat ini, motor baru ini lebih buruk dari Inline-4,” ujar Quartararo blak-blakan, dikutip Radar Jember dari Crash.
“Di Barcelona saya merasakan ada sedikit peningkatan, tapi di Misano ini sama sekali tidak. Saya tidak melihat progres di area yang benar-benar kami butuhkan. Top speed masih lambat, grip tetap tidak ada, dan elektronik butuh banyak perbaikan,” katanya.
Quartararo melanjutkan uji coba di sesi sore dengan hasil sedikit lebih baik, tetapi tetap finis ke-16 dengan gap 1,2 detik dari Pedro Acosta.
“Kami harus bekerja di semua aspek. Aeronya pun masih copy-paste dari Inline-4. Ini baru tahap awal, tapi jelas banyak pekerjaan menunggu,” katanya kepada MotoGP.com.
Menariknya, rekan-rekan lain yang juga menjajal Yamaha V4 memberi penilaian lebih positif.
Jack Miller menyebut motor itu “sudah berada di jalur yang benar”.
Sementara ,Alex Rins mengaku cukup puas meski menekankan proyek ini masih sangat dini.
Berbeda dengan Miller dan Rins, Quartararo justru memberi peringatan keras: Yamaha masih jauh dari kata kompetitif.
Dan, jika tak segera menemukan solusi, harapan mereka kembali bersaing dengan Ducati, KTM, dan Aprilia bisa semakin menjauh.
Editor : Imron Hidayatullahh