Radar Jember – Bos Ducati Corse, Gigi Dall’Igna, punya alasan besar untuk tersenyum di Hungaria.
Marc Marquez kembali mempersembahkan kemenangan untuk Ducati di lintasan yang benar-benar baru baginya.
Sekaligus makin mengokohkan jalannya menuju gelar juara dunia yang bisa saja dikunci lebih cepat di Misano.
Namun, di balik euforia itu, ada sisi kelam.
Pecco Bagnaia, juara dunia dua kali itu, kembali kesulitan dan hanya mampu finis di posisi ke-13 pada Sprint Race hari Sabtu (23/8).
Hasil buruk ini menambah panjang tren negatifnya di musim 2025.
Bahkan, membuatnya menjadi pembalap Ducati terakhir di balapan Hungaria.
Meski begitu, Dall’Igna tetap menilai akhir pekan ini sebagai catatan positif.
“Hari ini berjalan baik. Tiga motor kami ada di depan, jadi kami harus senang. Trek ini memang sangat unik, punya grip besar, tidak terlalu cepat, dengan banyak perubahan arah,” ujarnya, dikutip Radar Jember dari laman Motosan.
“Di awal balapan juga ada momen yang mengacak keadaan, tapi para pembalap kami tetap sangat cepat. Jadi saya puas,” sambung Dall’Igna.
Pernyataan itu sekaligus jadi bantahan halus terhadap keluhan Bagnaia yang merasa GP25 jauh berbeda dengan GP24.
“Seperti yang selalu kami katakan, motor-motor ini sangat mirip. GP25 hanyalah evolusi dari GP24. Memang, GP25 sedang kami kembangkan sepanjang musim ini, tapi dasarnya sama. Setiap pembalap memilih material yang paling disukainya,” jelasnya.
Selain itu, Dall’Igna juga menyinggung gaya membalap Marquez, yang menurutnya memberi keunggulan tersendiri bagi Ducati.
“Marc punya kekuatan besar di fase masuk tikungan, terutama ke kiri. Dia sangat berani memanfaatkan limit roda depan, lebih jauh dibandingkan pembalap lain. Itu bukan sesuatu yang bisa diajarkan, kamu punya insting itu atau tidak. Membawa roda belakang ke batas lebih mudah, tapi mengendalikan roda depan di limit jelas lebih berisiko,” tuturnya.
Kemenangan Marquez dan podium Fabio Di Giannantonio dengan motor GP25 mempertegas klaim Dall’Igna.
Sementara Bagnaia, dengan performa terpuruk, justru makin terjebak dalam bayangan rekan setim barunya.
Editor : Imron Hidayatullahh