Radar Jember - Berbicara soal Valentino Rossi bukan sekadar membahas legenda, tapi juga tentang tumpukan aneka cerita unik yang membentuk karakter kompetitif dan caranya memandang dunia balap.
Dari masa remaja di Italia hingga kariernya sekarang di balap ketahanan (endurance), pembalap berjuluk The Doctor ini membuktikan bahwa gairah kecepatan tidak mengenal usia.
Ape: 'Bajaj' Italia yang Jadi Awal Segalanya
"Masa itu sangat indah, saya berumur sekitar 15-16 tahun dan bersekolah di Pesaro," kenang Rossi dalam podcast Tintoria di Milan.
Baca Juga: Menang Lebih dari Dua Gelar? Marc Marquez dan Valentino Rossi Telah Melakukan Hal-Hal di Luar Nalar
Kala itu, Rossi tinggal bersama ibunya di Montecchio. Perjalanan ke sekolah bukanlah hal mudah. Ia harus bangun jauh lebih awal jika ingin naik trem, namun Rossi remaja lebih memilih naik motor agar bisa berangkat lebih siang.
Masalah muncul saat musim dingin tiba. Hujan dan udara beku membuatnya tersiksa di atas motor. Sang ayah, Graziano Rossi, kemudian memberikan ide unik: membeli sebuah ape (kendaraan roda tiga khas Italia, mirip Bajaj).
"Awalnya, ape itu identik dengan orang tua yang pergi ke kebun. Bukan kendaraan anak muda. Tapi saya ikuti saran Graziano, dan setelah itu, ape justru jadi tren anak muda karena teman-teman saya ikut membelinya," cerita Rossi.
Baca Juga: Bos KTM Muntab! Sebut Aturan Tekanan Ban MotoGP Tak Masuk Akal hingga Rugikan Pedro Acosta di COTA
Bagi Rossi, perjalanan lebih penting daripada tujuan. "Bahkan saat pergi main bowling ke Rimini pun, perjalanannya terasa seperti petualangan Indiana Jones," tambahnya.
Tradisi 'Sportellate': Senggolan yang Mengasyikkan
Ape milik Rossi adalah keluaran tahun 1979—sama dengan tahun kelahirannya. Terbuat dari pelat besi kokoh, kendaraan ini menjadi sarana hiburan yang brutal namun seru.
Rossi dan teman-temannya punya tradisi bernama sportellate, alias aksi saling tabrak pintu.
"Kami sering berkumpul di satu titik. Siapa pun yang parkir duluan, yang lain akan sengaja menabrakkan kendaraannya saat parkir di sampingnya. Kami bersenang-senang dengan cara itu," ungkapnya.
Inilah cara Rossi mengenal kompetisi dan kontak fisik di lintasan, bahkan jauh sebelum ia mencicipi sirkuit profesional.
Apes: Kena Razia Dua Kali dalam Sehari!
Namun, kenakalan remaja ini ada harganya. Rossi pernah mengalami hari sial di mana ia harus kehilangan dua kendaraannya sekaligus dalam sehari akibat berurusan dengan otoritas setempat.
Kejadian pertama menimpa motor skuter Zip hijaunya karena ia berkendara tanpa helm.
Belum kapok, malam harinya saat asyik melakukan sportellate dengan ape menuju tempat bowling, polisi militer (carabinieri) mengejar mereka. "Mereka menghentikan kami di pom bensin dan bertanya, apa-apaan yang kalian lakukan?" kenangnya.
Hasilnya? Polisi menyita ape mereka dan meninggalkan Rossi serta teman-temannya telantar dengan berjalan kaki.
"Saat ayah tahu motor dan ape saya disita di hari yang sama, dia sangat marah. Saya benar-benar tidak punya kendaraan lagi saat itu," kenang legenda hidup MotoGP ini sambil tertawa.
Dari Kekacauan Remaja ke Disiplin Profesional
Kini, kehidupan Rossi telah berubah drastis, meski semangatnya tetap sama. Sebelum menjalani tes di sirkuit, ia kini jauh lebih metodis.
Ia rutin berlatih menggunakan simulator balap tingkat tinggi bernama iRacing di PC untuk menghafal lintasan. Menariknya, di dunia simulasi ini, Rossi tetap ingin anonim.
"Kadang saya main dengan orang asing. Lucunya, nama akun saya adalah 'Valentino Rossi 2' karena nama asli saya sudah dipakai orang lain. Jadi, banyak yang tidak tahu kalau mereka sedang balapan melawan Valentino Rossi yang asli," tuturnya.
Tantangan Ekstrem Balap 24 Jam
Saat ini, Rossi menikmati babak baru di balap ketahanan mobil. Berbeda dengan MotoGP, ia harus berbagi mobil dengan dua pembalap lain dalam durasi yang sangat panjang. Tantangan fisik dan mentalnya luar biasa.
"Saat turun dari mobil setelah memacu adrenalin selama dua jam, kaki saya terasa nyeri dan badan lelah. Lalu saya melihat jam, ternyata masih tersisa 19 jam 37 menit lagi," katanya.
Kunci keberhasilannya adalah manajemen istirahat yang ketat di tengah kebisingan sirkuit.
Dari aksi senggol-senggolan ‘bajaj’ ape saat remaja hingga bertarung di balap ketahanan ekstrem, kisah Valentino Rossi membuktikan bahwa jiwa kompetitif bukanlah sesuatu yang dilatih, melainkan sesuatu yang sudah mendarah daging sejak lahir.
Editor : Imron Hidayatullahh