Radar Jember – Dunia MotoGP tengah digemparkan oleh spekulasi panas mengenai potensi penyatuan dua kutub kekuatan besar di tim pabrikan Ducati musim depan: si megabintang Marc Marquez dan sang sensasi muda, Pedro Acosta.
Mantan bos tim kawakan, Livio Suppo, bahkan tak ragu membandingkan skenario ini dengan rivalitas legendaris antara Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo di Yamaha satu dekade silam.
Sejarah mencatat bahwa pada 2008, Yamaha melakukan langkah berisiko dengan menduetkan Rossi yang sedang di puncak kejayaan dengan Lorenzo sebagai rookie berbakat.
Ketegangan yang tercipta begitu intens hingga garasi harus dipisah oleh dinding penyekat.
Namun, bagi Suppo, persaingan ‘panas’ itulah yang justru memicu Rossi tampil luar biasa hingga merebut gelar juara dunia 2008 dan 2009.
Acosta: ‘Banyak Pembalap Rela Membayar demi Setim dengan Marc’
Pedro Acosta sendiri tak menutupi ambisinya untuk berbagi paddock dengan pemilik delapan gelar juara dunia tersebut.
Baginya, belajar langsung dari Marquez adalah sebuah kesempatan langka yang didambakan hampir seluruh pembalap di grid.
"Bagi saya, itu pasti akan menjadi mimpi yang menjadi kenyataan. Menurutku, cukup banyak orang di paddock ini, kecuali mungkin saudaranya (Alex Marquez, Red), yang rela membayar untuk bisa menghabiskan satu tahun atau berapa pun lamanya bersama Marc sebagai rekan setim. Mengapa saya tidak mau melakukannya?," ujar Acosta, dikutip dari laman Motorsport.
Suppo meyakini bahwa kehadiran pembalap muda secepat Acosta tidak akan membuat Marquez gusar.
Sebaliknya, hal ini diprediksi akan menghidupkan kembali ‘api’ dan daya juang Marquez yang mungkin sedikit meredup seiring usia, persis seperti cara Lorenzo memperpanjang masa kejayaan Rossi di masa lalu.
Strategi Ducati Menuju Regulasi 850 cc
Spekulasi kepindahan Acosta ke Ducati pada musim 2027 bukan tanpa alasan. Langkah ini disebut-sebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang Ducati untuk menyambut regulasi mesin 850 cc yang baru.
Acosta diprediksi akan mengisi kursi tim pabrikan, menggantikan Francesco Bagnaia yang performanya dinilai tengah mengalami penurunan.
Meski demikian, pengumuman resmi masih tertahan oleh kendala kesepakatan komersial antara Ducati dengan pihak MotoGP untuk musim 2027.
Di sisi lain, Acosta yang saat ini masih membela KTM memilih untuk tetap profesional dan fokus pada performanya di lintasan sebelum benar-benar berganti seragam.
Menanti Kebangkitan Rivalitas Garasi
Saran untuk menyatukan Marquez dan Acosta juga datang dari legenda balap Kevin Schwantz yang menyebut duet ini sebagai Dream Team.
Baca Juga: Marquez Kejar Tayang Jelang MotoGP Jerez: Masih Dibalut Perban, Antara Ambisi Juara dan Batas Fisik
Jika benar terealisasi, publik akan menyaksikan dinamika eksplosif di mana dua pembalap beda generasi saling mendorong hingga batas maksimal.
Akankah Ducati mampu mengelola ego dua pembalap haus kemenangan ini tanpa harus memasang ‘tembok pemisah’ seperti era Rossi-Lorenzo?
Yang pasti, kehadiran duet ini akan menjadi magnet utama yang menghidupkan kembali gairah kompetisi MotoGP di masa depan.
Editor : Imron Hidayatullahh