Dalam pembuatan aquascape, tidak semua kayu dapat digunakan. Sebab, membutuhkan kayu yang kuat dan tidak mudah lapuk. Kayu itu berfungsi sebagai media tumbuh beberapa jenis tanaman air. Biasanya, jenis kayu yang digunakan adalah kayu bonsai, rasamala, santigi, dan kayu kisirem. Sebelumnya, kayu-kayu ini harus melalui beberapa proses pengeluaran tanin yang tidak sebentar. Biasanya bisa sampai satu minggu.
Salah satu desainer aquascape, Yohanes Mario mengungkapkan, rata-rata kayu yang akan digunakan, zat tanin atau zat dalam kayu yang dapat membuat air keruh harus dikeluarkan terlebih dulu. Salah satu caranya dengan merendam selama satu minggu, bahkan bisa lebih. Menurutnya, dengan proses perendaman ini, tanin-tanin dalam kayu akan keluar semua. “Paling ampuh memang direndam. Bahkan, ada beberapa kayu yang taninnya nggak habis-habis,” kata Yohanes, saat dikunjungi di stan desain aquascape di Jalan Semeru, Sumbersari.
Selain direndam, kata dia, tanin kayu juga bisa dikeluarkan melalui proses pendidihan. Waktunya tidak lama seperti perendaman. Namun, menurut Yohanes, proses ini bisa menghambat tanin keluar seluruhnya. Nantinya tanin dalam kayu justru masih tersisa dan membuat air dalam aquascape menjadi keruh.
Setelah melalui proses pengeluaran tanin, kayu dirakit hingga menyerupai sebuah pohon. Proses perakitan ini hanya bisa dilakukan dalam satu hari saja. Dan kesulitannya adalah ketika mencari sambungan ranting untuk menjadikan pohon yang utuh. “Jadi, ada batang utama dan rantingnya. Misalnya butuh kayu yang panjang, nanti bisa disambung pakai lem,” ungkap Bima, rekan kerja Yohanes.
Bima menjelaskan, pemilihan kayu yang digunakan itu harus disesuaikan dengan tema yang dipilih. Beberapa tema yang populer adalah natural, jungle, dan iwagumi. Dia mencontohkan, ketika akan mendesain aquascape dengan tema natural, maka kayu yang dipakai adalah jenis santigi. Kelebihannya bisa langsung tenggelam. Tidak ngambang seperti kayu yang lain, sehingga harus dilem pada batu agar tidak mengambang.
Kayu santigi juga merupakan kayu yang paling mudah diproses. Sebab, Bia menuturkan, kayu ini tidak mengeluarkan tanin sebanyak kayu yang lain. Karena itu, tidak perlu dilakukan proses perendaman hingga berhari-hari. Kayu yang berasal dari Kalimantan dan Sulawesi ini banyak digunakan dengan tema natural. “Tekstur dan seratnya cocok dipakai tema natural. Bentuknya khas. Serat dan liuk-liuknya sangat menonjol,” ungkap Bima.
Umumnya, referensi desain aquascape terinspirasi dari sebuah lukisan. Dan tak jarang, para pemesan aquascape terinspirasi dari kisah perjalanan mereka sendiri. “Setiap tank ada ceritanya. Biasanya klien cerita dulu. Referensinya juga bisa dari lukisan-lukisan. Inspirasinya juga bisa dari alam,” pungkas Bima.
Jurnalis: Dian Cahyani
Fotografer: Dian Cahyani
Editor: Mahrus Sholih Editor : Safitri