JEMBER, RADARJEMBER.ID - Bermain layang-layang menghadirkan sensasi tersendiri. Baik anak-anak atau orang dewasa, berniat menerbangkan layang-layang tentu bukan hanya karena senang atau bangga dengan model layang-layang itu.
Melainkan juga menjadi kepuasan tersendiri bila memenangkan perlombaan atau bisa disebut layang-layang aduan.
Perlombaan bisa berupa kontes adu kreativitas model atau layang-layang yang sengaja diadu bukan karena modelnya yang unik. Tapi karena kekuatan benang dan strategi mengadu layang-layang itu.
“Layang-layang tidak hanya terbang saja, tapi ada juga yang diadu, lebih asik itu,” terang Alfan Saputra pendiri Ruang Bermain Anak Ambulu.
Dalam hal itu model layang-layang tidak perlu terlalu bagus, layang-layang biasa saja yang penting benangnya kuat dan tidak mudah patah.
Biasanya benang dipilih yang berukuran besar. Lalu dilem menggunakan bubuk pecahan guci. Namun ada juga yang beli langsung di toko. Saat mengadu harus ekstra hati-hati.
Sebaiknya menggunakan sarung tangan dari bahan kulit tebal agar tangan tidak tergores benang gerakan yang pada akhirnya menyebabkan luka.
Sebab, dalam bermain layang-layang aduan, harus ada salah satu layang-layang yang putus. Sehingga, layang-layang siapa yang bertahan terbang, itu yang menang.
Selain keseruan saat beradu, menurut Alfan, salah satu yang paling menyenangkan yakni saat mengejar layang-layang yang kalah jatuh. Sehingga, rasa solidaritas antar teman akan terlihat jelas saat menyelamatkan layang-layang yang jatuh dari ketinggian.
“Asiknya itu ketika ngejar layang-layang yang kalah, serunya tidak kalah dengan permainan paling seru,” ungkapnya.
Sehingga, meski esensi permainannya aduan, namun rasa kebersamaan dan saling tolong menolong masih terjaga.
Sebab, layang-layang merupakan objek bermain, bukan untuk saling mencari musuh. Hal itu yang menjadi makna solidaritas dalam permainan layang-layang. (qal/nur)
FOTO-FOTO: HOFI HANNAN/RADAR JEMBER
Editor : Maulana Ijal