Rizky Kumala Permadi atau Kelik menyebut, dia belajar sape sejak duduk di bangku kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Dua tahun lalu, dia hampir memutuskan untuk tinggal di Jogja karena di Jember belum begitu booming. "Akhirnya, saya bergabung dengan Linkrafin. Di situ benar-benar merasakan adanya musik yang multietnis," jelasnya.
Untuk bisa bermain sape, disarankan agar mengetahui dasar-dasar bermain gitar. Jika tidak, maka proses belajarnya bisa jadi lebih lama. "Gitar akustik punya bahasa tentang tangga nada yang disepakati di seluruh dunia. Sementara sape adalah musik etnik, sehingga di dunia masih sangat minim," ungkapnya.
Tangga nada yang memiliki sebutan berbeda tentu harus dipahami oleh siapa saja yang akan belajar. Misalnya, pada gitar akustik ada yang namanya garis fret, demikian pula dengan sape. Bedanya, garis fret pada sape hanya separuh saja, sehingga dari empat senar yang ada, hanya dua yang dimainkan dengan garis fret. "Jadi, dalam gitar sape ada istilah nyibak dan nganak. Kalau pada gitar biasanya itu seperti ritme dan melodi. Khusus sape cara bermainnya seperti melodi," jelasnya.
Bagi siapa saja yang ingin memperdalam sape, menurutnya, perlu menjiwai kebudayaan sehingga memahami maksud dari tangga nada yang harus dihasilkan. "Kalau alat musik tradisional, mau tidak mau harus memahami kebudayaan etnik agar suara yang dihasilkan juga sesuai dengan tujuan musik tradisional itu. Makanya, andalan sape yakni suara yang mendayu-dayu," paparnya.
Kelik mengaku, dirinya juga terus belajar hingga saat ini. Jika dulunya dia belajar dengan lagu-lagu yang khas dengan gitar sape, dalam perkembangan zaman, sape juga dituntut untuk dapat masuk ke musik modern. "Kombinasi agar warna gitar sape tetap hidup saat disandingkan dengan musik modern, ini yang sulit. Tentu, belajar butuh waktu, ketekunan, dan menjiwai," pungkasnya.
Jurnalis: Nur Hariri
Fotografer: Dwi Siswanto
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Maulana Ijal