Para pehobi itu pun, menurut Wiji Purnomo, banyak berkorban demi hewan ternak yang dipeliharanya. Sapi limosin dengan badan besar sejak kecil atau pedet sudah bisa dilihat bakal bisa gemuk dan besar. Pria ini pun membeber beberapa ciri sapi bisa menjadi gemuk dan besar. “Itu dilihat dari postur tubuhnya. Bisa juga dari kakinya. Tinggi dan panjangnya badan,” jelas Wiji. Namun demikian, orang yang tidak biasa akan tetap sulit membedakan mana pedet yang bakal bisa besar dan tidak.
Setelah mengetahui ciri-cirinya, pedet tersebut selanjutnya dirawat dengan baik. Sapi miliknya yang dirawat Kadir dan Aziz itu pun menjalani perawatan yang lebih dibanding sapi potong atau sapi pekerja pada umumnya. “Sehari bisa menghabiskan Rp 25 sampai Rp 30 ribu. Selain itu, diinjeksi atau disuntik untuk kesehatan,” ungkapnya.
Sapi miliknya maupun sapi yang disiapkan untuk kontes milik orang lain juga mendapat perawatan yang tidak jauh berbeda. Termasuk menjaga pakan agar tetap sehat dan bersih. Pakannya tetap bisa rumput, katul, serta ampas. “Kalau kelebihan protein, sapi juga bisa sakit,” jelas Widi.
Dalam merawat sapi kontes, ada satu hal yang jarang bahkan tidak dilakukan terhadap sapinya. Yaitu tidak pernah memecut sapi. Hal itu bagian dari rasa sayang terhadap sapi yang terus dibesarkan. “Harganya juga beda. Kalau sapi kontes dengan bobot 1 ton, harga sekarang pasti lebih dari Rp 85 juta. Kalau sudah juara, harganya beda lagi,” tuturnya.
Jika dibanding dengan sapi potong atau sapi pekerja, maka harganya cukup jauh. Rata-rata untuk sapi potong dengan bobot 1 ton dihargai Rp 65 juta sampai 70 juta. Namun demikian, sapi dengan bobot 1 ton jarang ditemukan di pasaran. “Kalau sapi di pasaran, rata-rata yang besar bobotnya sekitar 600 sampai 700 kilogram. Nah, sapi dengan bobot satu ton biasanya banyak dibeli orang Jakarta atau para pejabat,” pungkas Wiji.
Jurnalis: Nur Hariri
Fotografer: Dwi Siswanto
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri