BACA JUGA: Engklek Permainan Warisan Nenek Moyang
Bagi para alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM), Sego Pecel (SGPC) Bu Wiryo adalah nostalgia masa kuliah. Itulah salah satu alasan membuat warung ini tidak pernah sepi pengunjung, selain murah meriah sesuai kantong mahasiswa namun pemilik warung tetap mengedapankan kepuasan pelanggan.
Yuyun –nama panggilan Nur Wahyuni– menyebut nasi pecel sebagai kuliner yang pas. Ya, pas di perut dan pas di kantong. Kalau disajikan di restoran berbintang, harga nasi pecel bisa menjadi mahal. Seporsi bisa sampai Rp 100 ribu. Tapi, rasa hampir sama, cuma plating-nya berbeda. Jadi, terlihat lebih elegan.
Menurut Yuyun, nasi pecel Jogjakarta berbeda bila dibanding nasi pecel Jawa Timur. Yang membedakannya adalah bumbunya, sehingga itu menjadi ciri khas nasi pecel tersebut. Di Jawa Timur, bumbu pecelnya cenderung pedas. Sebaliknya, di Jogjakarta, bumbu kacangnya terasa manis dan beraroma kencur. Itu sesuai dengan kesukaan masyarakat Jogjakarta.
”Begitu pun variannya berbeda sekali, kalau di Jogjakarta nasi pecel dimakan dengan nasi. Di Jawa Timur, biasanya dikombinasikan juga dengan tepo atau lontong. Namun demikian nasi pecel adalah makanan tempo dulu, di era kekinian seperti sekarang ini tetap diburu oleh pecinta kuliner.” ujar Yuyun.(*)
Penulis: Winardyasto
Fotografi: Allex Qomarulla
Sumber Berita: jawapos.com Editor : Safitri