RADAR JEMBER – Erupsi Gunung Semeru masih terus terjadi hampir setiap hari. Meski demikian, kehidupan masyarakat di lereng gunung tertinggi di Pulau Jawa itu tetap berjalan.
Aktivitas bertani, berdagang, hingga sektor wisata masih berlangsung dengan berbagai penyesuaian, selama berada di luar kawasan yang dinyatakan berbahaya.
Hingga kini, status aktivitas Gunung Semeru masih berada pada Level III (Siaga).
Berdasarkan hasil evaluasi Badan Geologi, aktivitas vulkanik Semeru masih tergolong tinggi sehingga statusnya belum diturunkan.
Aktivitas erupsi, guguran lava, dan potensi awan panas masih terus dipantau oleh petugas.
Baca Juga: Pemkab Lumajang Bakal Tambah Seratus Beasiswa, Berikut Rinciannya
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan aktivitas Gunung Semeru masih didominasi proses permukaan sehingga masyarakat diminta tetap mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan.
"Kami telah melakukan evaluasi perkembangan aktivitas Gunung Semeru baik melalui pengamatan visual maupun instrumental," kata Lana Saria dalam keterangan resmi Badan Geologi.
Meski status belum berubah, kehidupan masyarakat di sekitar Semeru perlahan telah beradaptasi dengan kondisi tersebut.
Warga yang tinggal di luar zona rawan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari, namun lebih waspada terhadap informasi dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru, terutama saat cuaca hujan yang berpotensi memicu aliran lahar.
Di sektor pertanian, sebagian besar lahan di luar kawasan rawan masih tetap diolah.
Abu vulkanik yang turun dalam intensitas ringan memang dapat mengganggu tanaman dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang material vulkanik juga dikenal mampu meningkatkan kesuburan tanah.
Karena itu, banyak petani memilih tetap menggarap lahannya sembari mengikuti perkembangan aktivitas gunung.
Baca Juga: Minta Pokir Fokus Perbaikan Jalan di Lumajang! Begini Komentar Bupati Indah Amperawati
Pasar tradisional, warung, hingga usaha kecil tetap beroperasi karena sebagian besar
Erupsi Semeru tidak serta-merta membuat seluruh destinasi wisata di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ditutup.
Balai Besar TNBTS menegaskan bahwa Gunung Bromo tetap dapat dikunjungi karena memiliki sistem pemantauan dan karakter aktivitas vulkanik yang berbeda dengan Semeru.
Pranata Humas Balai Besar TNBTS, Endrip Wahyutama, menjelaskan bahwa erupsi Semeru tidak otomatis berdampak pada seluruh kawasan taman nasional.
"Erupsi Gunung Semeru tidak otomatis berdampak pada seluruh kawasan TNBTS. Meski Semeru dan Bromo berada dalam satu kawasan taman nasional, keduanya merupakan gunung api yang berbeda dengan karakteristik aktivitas vulkanik dan sistem pemantauan yang berbeda pula," ujarnya.
Meski begitu, pemerintah tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah.
Aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan dan kawasan dalam radius yang telah ditetapkan PVMBG masih dilarang karena berpotensi terdampak awan panas, guguran lava, maupun aliran lahar, terutama saat hujan turun.
Bagi masyarakat lereng Semeru, hidup berdampingan dengan gunung api aktif telah menjadi bagian dari keseharian.
Mereka tidak lagi hanya mengandalkan kondisi visual gunung, tetapi juga rutin mengikuti informasi resmi dari PVMBG, BPBD, dan pemerintah daerah sebagai dasar menentukan aktivitas.
Adaptasi inilah yang membuat kehidupan tetap berjalan, meski Gunung Semeru masih terus menunjukkan aktivitas vulkaniknya.
Penulis : Siti Roihani
Editor : M. Ainul Budi