Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pengakuan Indikasi Geografis Bisa Perkuat Daya Saing Beras Sintanur Bondowoso

Faqih Humaini • Jumat, 2 Januari 2026 | 08:32 WIB

DIGARAP: Salah satu lokasi pertanian yang progres untuk ditanami padi sintanur wangi.(FAQIH HUMAINI/RADAR IJEN)
DIGARAP: Salah satu lokasi pertanian yang progres untuk ditanami padi sintanur wangi.(FAQIH HUMAINI/RADAR IJEN)

RADAR JEMBER - Pengakuan Indikasi Geografis (IG) membawa dampak signifikan terhadap peningkatan daya saing Beras Sintanur Wangi Bondowoso.

Sepanjang tahun 2025, produksi beras unggulan daerah tersebut tercatat mencapai lebih dari 1.147 ton yang dihasilkan dari lahan seluas 221,3 hektare, sekaligus menjadi bukti konsistensi kualitas pasca memperoleh sertifikat IG.

Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Beras Sintanur Wangi Bondowoso, Mustafa, menyebut capaian itu melibatkan 276 petani yang tersebar di lima kecamatan.

“Ini adalah produksi yang dihitung pasca kami mendapatkan SK Indikasi Geografis. Totalnya 1.147 ton lebih dari 221,3 hektare dengan 276 petani yang terlibat,” ujar Mustafa.

Ia menjelaskan, dalam proses budidaya terdapat dua metode tanam yang umum digunakan petani, yakni sistem tanam benih langsung (Tabela) dan sistem semai.

Sistem Tabela membutuhkan waktu sekitar 120 hari hingga panen, sementara sistem semai memerlukan waktu 90 hingga 95 hari setelah pindah tanam, dengan masa persemaian benih sekitar 30 hari sebelumnya.

Menurut Mustafa, perbedaan waktu panen tersebut kerap disalahartikan.

“Bukan berarti sistem semai itu lebih cepat, karena benihnya sudah berada di tempat semai kurang lebih 30 hari sebelum dipindahtanam,” jelasnya.

Lebih lanjut, Mustafa menegaskan bahwa keunggulan Beras Sintanur Wangi Bondowoso tidak semata-mata berasal dari varietasnya, melainkan dari kondisi geografis wilayah tanam.

“Sebenarnya keunggulan beras Sintanur Wangi ini terletak pada geografisnya, bukan karena varietasnya. Ketika ditanam di luar Bondowoso, kualitasnya pasti turun,” tegasnya.

Dari sisi mutu, beras Sintanur Wangi dikenal memiliki karakteristik fisik dan aroma yang khas.

“Kualitas berasnya sangat bagus. Salah satu contohnya adalah mengkristalnya beras, sehingga white bulirnya sedikit, buramnya juga sedikit. Aromanya lebih kuat, khususnya di beras Sintanur Wangi ini,” papar Mustafa.

Ia menambahkan, aroma pandan bahkan sudah tercium sejak tanaman berusia sekitar 45 hari, dengan produktivitas mencapai 5,1 hingga 5,5 ton per hektare.

Dalam rantai pasok, MPIG berperan menyerap gabah petani mulai dari gabah kering panen (GKP) hingga gabah kering giling (GKG) sebelum dikirim ke PT Samudera Indo Pangan untuk diolah menjadi beras.

“Teknologi di sana sudah memadai dan berstandar nasional. Saat ini harga pembelian gabah kami di kisaran Rp7.700 sampai Rp8.000 per kilogram. Kenapa tinggi? Karena ini beras khusus, dan harapannya bisa meningkatkan kesejahteraan petani,” pungkasnya. (faq/fid)

 

 

 

Editor : Adeapryanis
#beras #Bondowoso