radarjember.id - Siapa sangka letusan Gunung Semeru yang terjadi setiap hari tampaknya perlu diwaspadai.
Sebab, selama dua pekan terakhir, letusan itu membuat material lava makin menumpuk dan membentuk scoria cones atau gunung berapi kecil di puncak kawah.
Pada periode 1-15 Oktober 2025, Gunung Semeru tercatat telah terjadi 1.129 gempa letusan, 23 kali gempa guguran, 91 kali gempa hembusan, 5 kali tremor harmonik, 1 kali gempa vulkanik dangkal, 1 kali gempa vulkanik dalam, 3 kali gempa tektonik lokal dan 78 kali gempa tektonik jauh.
Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid mengatakan, penumpukan material lava tersebut perlu diwaspadai.
Sebab, selain sewaktu-watu bisa mengalami guguran lava pijar maupun awan panas.
“Akumulasi material hasil erupsi (letusan dan aliran lava) maupun pembentukan scoria cones berpotensi menjadi guguran lava pijar, atau pun awan panas,” katan dalam laporan tertulis yang diterima Jawa Pos Radar Semeru.
Apalagi ketika memaski musim penghujan. Kewaspadaan perlu ditingkatkan.
Sebab, sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Gunung Semeru yang melewati sejumlah desa dan kecamatan di selatan Lumajang masih dipenuhi endapan material guguran lava sebelumnya.
“Material guguran lava dan atau awan panas yang sudah terendapkan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, berpotensi menjadi lahar jika berinteraksi dengan air hujan,” katanya.
Menurutnya, meskipun mengalami ribuan letusan, tekanan pada tubuh gunung api sudah dinilai relatif menurun.
Badan Geologi menetapkan status Gunung Api Semeru tetap berada di level II atau waspada.
Namun, pihaknya mengimbau aktivitas di sekitar gunung tetap diperhatikan.
“Waspada terhadap potensi awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru,” pungkasnya. (son/fid)
Editor : Adeapryanis