radar jember - Wacana pembangunan Jalan Tol Probolinggo–Lumajang atau yang lebih dikenal dengan nama Tol Prolajang kembali mengemuka sebagai proyek besar yang diperkirakan akan mempercepat konektivitas antara dua kabupaten di Jawa Timur, yakni Probolinggo dan Lumajang.
Proyek yang direncanakan sepanjang 32 kilometer ini diharapkan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi di wilayah Tapal Kuda, serta memperlancar arus distribusi barang dan mobilitas masyarakat.
Latar Belakang Proyek
Proyek Tol Prolajang menjadi bagian dari program strategis nasional yang tercantum dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Jawa Timur.
Rencana pembangunan tol ini juga bagian dari upaya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di kawasan Jawa Timur bagian selatan yang selama ini belum mendapatkan fasilitas transportasi yang memadai.
Proyek ini dirancang untuk menghubungkan Kota Probolinggo di utara dengan Kabupaten Lumajang di selatan.
Saat ini, akses antara kedua wilayah tersebut masih mengandalkan jalur jalan nasional yang cukup padat dan sering kali terganggu oleh kemacetan, terutama pada musim liburan dan puncak arus balik.
Dampak Positif Bagi Konektivitas dan Ekonomi
Tol Prolajang diharapkan bisa memangkas waktu tempuh yang selama ini memakan waktu lebih dari satu jam menjadi hanya setengah jam saja.
Selain mempercepat pergerakan barang dan orang, proyek ini juga diharapkan dapat mengurangi kecelakaan lalu lintas yang sering terjadi di jalur padat Probolinggo–Lumajang.
Budi Santoso, seorang pengusaha lokal di Lumajang, mengatakan, "Dengan adanya tol ini, saya yakin biaya distribusi barang akan lebih murah, dan waktu pengiriman ke pasar luar kota juga akan lebih cepat. Ini sangat membantu kami para pelaku usaha kecil di sini."
Selain itu, sektor pariwisata yang mengandalkan akses ke Gunung Bromo dan Taman Nasional Semeru juga diprediksi akan semakin berkembang.
Kawasan ini selama ini menjadi tujuan wisata populer yang mengundang banyak turis domestik dan mancanegara. Dengan adanya tol, diharapkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut akan meningkat, yang pada gilirannya akan mendongkrak perekonomian lokal.
Skema Pembiayaan dan Waktu Realisasi
Proyek Tol Prolajang diperkirakan akan menelan biaya hingga Rp4,7 triliun, yang akan dibiayai melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
Skema ini diharapkan dapat mempercepat pelaksanaan proyek tanpa membebani anggaran negara secara langsung.
Meskipun wacana proyek ini sudah berkembang sejak beberapa tahun lalu, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) masih dalam tahap persiapan teknis.
Beberapa langkah yang sudah dilakukan termasuk kajian kelayakan dan survei lapangan, serta penyusunan master plan untuk pengembangan lebih lanjut.
Menurut Bambang Widodo, Kepala Pusat Pengembangan Infrastruktur Jawa Timur, dalam rencananya, tol ini akan terhubung dengan Tol Pasuruan–Probolinggo di utara dan Tol Lumajang–Jember di selatan.
Jaringan tol ini akan menciptakan koridor logistik yang efisien, yang menghubungkan wilayah pantai utara dan selatan Jawa Timur.
Tantangan dan Prospek
Meski mendapat sambutan positif, proyek ini juga menghadapi tantangan besar terkait dengan pembebasan lahan dan keberlanjutan pendanaan.
Proses pembebasan lahan, yang melibatkan warga sekitar dan pihak terkait, diperkirakan akan memakan waktu cukup lama sebelum konstruksi dimulai. Namun, banyak pihak berharap tahapan ini dapat berjalan lancar agar proyek bisa segera terealisasi.
Pemerintah daerah baik Probolinggo maupun Lumajang juga telah mengajukan dukungan kepada pemerintah pusat untuk memastikan kelancaran proyek ini.
Masyarakat pun mengharapkan proyek ini tidak hanya membawa manfaat dari segi infrastruktur, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
Penulis: Anik Kholifatul Imania
Editor : M. Ainul Budi