radarjember.id - Empat unit pelaksana teknis (UPT) pusat kesehatan hewan (Puskeswan) yang ada di Lumajang diketahui telah menerima tambahan alokasi vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK). Hanya saja jumlahnya cukup terbatas, bahkan belum mampu memenuhi kebutuhan.
Pemerintah pusat telah mengalokasikan tambahan vaksin PMK sebanyak 10.500 dosis. Jumlah itu telah dibagikan ke empat UPT Puskeswan yang ada di Kecamatan Pasirian, Lumajang, Klakah, dan Kecamatan Senduro. Masing-masing puskeswan mendapat jatah 2.500 dosis vaksin PMK.
Baca Juga: Akses Jalan ke Air Terjun Tancak Kembar Bondowoso Masih Terputus, Sebut Harus Diaspal Ulang
Kepala UPT Puskeswan Kecamatan Pasirian Totok Suprayitno mengatakan, jumlah vaksin yang diterima tersebut masih belum cukup untuk menanganai semua hewan ternak di wilayahnya. Sebab, jumlah hewan ternak di wilayah UPT Puskeswan Pasiriam mencapai 17 ribu ekor sapi.
“Untuk keseluruhan di kabupaten, itu dapat alokasi vaksin sekitar 10.000 dosis, ini dibagi lagi ke empat puskeswan, masing-masingnya itu 2.500. Ini masih sangat kurang, untuk di wilayah kami saja ada di empat kecamatan jumlahnya sekitar 17 ribu ekor,” terangnya.
Menurutnya, tidak sedikit peternak sapi di wilayahnya meminta vaksin secara mandiri. Tujuannya untuk meningkatkan kekebalan hewan ternak sapi miliknya dari serangan PMK. Namun, biaya yang harus dikeluarkan oleh peternak sebesar Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu.
“Biasanya ada peternak itu yang mengajukan vaksin mandiri, tapi ada biayanya sekitar Rp 60 sampai Rp 70 ribu buat satu ekor ternak yang divaksin. Ini vaksinnya berbeda dengan yang dialokasikan dari pemerintah," tambahnya.
Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Endra Novianto mengatakan, proses vaksinasi kepada hewan ternak dimulai sejak Jumat (17/1) lalu. Untuk mencegah penularan semakin marak, Pemkab Lumajang menutup sementara seluruh pasar hewan di Lumajang.
“Lumajang dapat alokasi 10.500 dosis. Memang jumlah itu belum bisa memenuhi kebutuhan semua ternak, tapi upaya untuk meningkatkan kekebalan ternak melalui vaksin setidaknya sudah mulai dilakukan lagi, pasar hewan juga ditutup untuk menekan angka penyebaran,” pungkasnya. (has/son/fid)
Editor : Adeapryanis