radarjember.id - Pemenuhan fasilitas Alun-alun Lumajang sebagai ruang terbuka hijau perlu perbaikan ulang. Selain tidak ramah disabilitas, ternyata tidak ramah anak. Terutama tempat bermain atau playground yang tersedia masih jauh dari kata layak.
Jika diamati playground yang tersedia masih kurang safety. Bagi sebagian anak yang lepas pengawasan dari orang tua, ada kemungkinan terjadi cidera. Karena playground tersebut tidak memiliki keamanan yang cukup memadai.
Baca Juga: Kampus Unggul UIN KHAS Jember Sediakan Kuota 4230 Mahasiswa Baru Tahun 2025
Bahkan, jumlah playground yang tersedia dinilai minim. Terutama bagi anak-anak yang masih usia 3-5 tahun. Mereka harus bergantian pada saat momen car free day. Karena banyak anak-anak yang memanfaatkan waktu libur untuk bermain di Alun-alun.
Keresahan ini yang dirasakan Rahmawati, warga sekitar yang juga merasa kurang nyaman dengan playground yang disediakan. Akhirnya, dia memilih memanfaatkan permainan yang disediakan PKL.
“Saya khawatir karena terlalu ramai juga dan wahananya cuma ada dua. Apalagi kalau minggu pagi jelas ramai, banyak anak yang main juga. Saya lebih baik bayar Rp 10 ribu asal anak saya lebih aman,” ucapnya.
Sementara itu, Fungsional Perencanaan pada Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Lumajang Fellicia mengatakan, Lumajang belum bisa disebut kota ramah anak karena pelaksanaannya belum optimal.
“Kalau sudah dilakukan standarisasi secara maksimal baru bisa dibilang kota ramah anak. Apalagi saat ini kondisi Alun-alun dan banyak sekolah yang belum ramah anak,” ucapnya.
Dia menjelaskan, pembangunan playground yang tersedia saat ini belum memiliki penjagaan khusus. Sering juga terdapat putung dan asap rokok meskipun sudah diberi papan peringatan.
“Inilah yang harusnya menjadi kesadaran semua, untuk optimalisasi fasilitas sehingga dengan menyandang predikat madya kedepan bisa naik satu tingkat sebagai kota layak anak” pungkasnya. (dea/son/fid)
Editor : Adeapryanis