TOMPOKERSAN, Radar Semeru - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) rawan terjadi saat musim kemarau tiba. Meski dalam beberapa tahun belakangan tidak terdapat kasus karhutla di Lumajang, pemetaan wilayah berpotensi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang tetap perlu dilakukan.
Informasi yang berhasil dihimpun dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Lumajang, karhutla terakhir terjadi pada tahun 2019 sebanyak tujuh kasus. Sementara, berdasarkan hasil analisis tahun 2017, kelas kerentanan karhutla di Lumajang ada di antara kelas tinggi hingga rendah. Dengan satu kecamatan yang masuk kerentanan tinggi, yaitu Kedungjajang. Terdapat juga 13 kecamatan dengan kelas sedang dan tujuh kecamatan dengan kelas kerentanan rendah.
Kabid Pencegahan, Kesiapsiagaan, dan Logistik BPBD Lumajang Wawan Hadi Siswoyo mengatakan, bencana karhutla tak terjadi beberapa tahun belakang. Namun, pemetaan tetap dilakukan untuk mempermudah penanganan dari bencana yang kapan saja bisa terjadi. "Mengingat juga musim kemarau memperbesar potensi karhutla," paparnya.
Dia mengatakan, wilayah paling rawan karhutla terletak di sekitaran Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Oleh karena itu, dilakukan koordinasi dengan Perhutani Lumajang dan pihak pengelola TNBTS terhadap potensi tersebut. "Dengan begitu, kesiapan dari masing-masing personel bisa dimaksimalkan saat bencana terjadi," tuturnya.
Selain disebabkan faktor alam, manusia menjadi penyebab lain dari serangkaian kejadian kebakaran. "Membuang puntung rokok dan membakar sampah sembarangan juga masih jadi kebiasaan mayoritas masyarakat yang harusnya tidak dilakukan. Perpaduan kebiasaan itu dengan kondisi cuaca panas seharusnya jadi kesadaran bersama," jelasnya.
Kebiasaan membakar lahan pertanian, kata dia, juga sering dijumpai. Baik lahan padi maupun jagung yang sudah dilakukan panen. Koordinasi dan sosialisasi harus dilakukan terhadap kebiasaan itu di masyarakat. "Sebaiknya pembakaran lahan tidak dilakukan. Namun, jika memang masih melakukan harus dipastikan tidak menjalar ke mana-mana," pungkasnya. (mg1/c2/dwi)
Editor : Radar Digital