LUMAJANG, RADARJEMBER.ID- Puluhan gunungan hasil bumi diarak oleh warga dari Balai Desa Penanggal, Candipuro, menuju wisata Tirtosari View. Itu dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas hasil bumi dan air yang melimpah ruah.
Ribuan orang mengarak gunungan hasil bumi yang berisi sayuran, buah-buahan, maupun jajanan pasar. Mereka terlihat begitu bersemangat memikul setiap gunungan hasil bumi. Diketahui ada sekitar 41 gunungan memadati kawasan Tirtosari view.
Mereka mengarak dengan penuh semangat sambil diiringi tarian, sehingga suasananya makin meriah. Sampai di lokasi, hasil gunungan jadi rebutan warga.
Mereka saling berdesakan, mengambil dan membawa pulang hasil bumi itu. Ada yang mendapatkan satu bungkus, bahkan ada juga yang mendapat satu karung.
Pemerintah desa juga melakukan ruwat air yang dilengkapi dengan tarian khusus. “Ruwat air tujuannya sebagai rasa syukur, sebab air di sini bisa menghidupi warga Candipuro,” tutur Kepala Desa Penanggal Cik Ono.
Kepala Dinas Pariwisata Lumajang Yuli Haris mengaku, kegiatan seperti itu mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan luar.
“Kalau di sini adat dan budayanya masih kental. Ini bisa menjadi nilai tawar bagi wisatawan luar dan wisata di Lumajang bisa makin dikenal,” pungkasnya.
Sementara itu, Grebeg Suro yang menjadi tradisi tahunan bagi Desa Sumbermujur juga digelar. Selain memperingati tahun baru Islam (satu Suro), hal itu juga sebagai bentuk rasa syukur atas berlimpahnya hasil bumi yang bisa diperoleh.
Sebagai ungkapan tersebut, terdapat 28 gunungan hasil bumi gabungan dari empat dusun yang sebelumnya sudah diarak dari Balai Desa Sumbermujur dan ditempatkan di sumber mata air wisata Hutan Bambu.
Sebagai puncak tema dari "Tirto Mangun Kahuripan" dilakukan juga penguburan satu kepala sapi.
Kepala Desa Sumbermujur Yayuk Sri Rahayu mengatakan, tradisi grebeg Suro itu adalah bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta. Berlimpahnya sumber air yang ada memberikan banyak manfaat bagi warga setempat.
"Berlimpahnya hasil pertanian yang ada tidak lepas dari terpenuhinya kebutuhan akan air yang diberikan Sang Pencipta," paparnya.
Sementara itu, Ketua Pengelola Wisata Hutan Bambu Tarimin mengatakan, banyak manfaat dari acara yang diselenggarakan setiap 1 Muharam 1445 Hijriah itu.
Selain terus melestarikan tradisi yang ada, tentunya juga bermanfaat bagi pengembangan wisata Hutan Bambu. "Tentunya akan menarik banyak minat dari luar desa, baik media maupun pengunjung," pungkasnya. (dea/mg1/c2/fid)
Editor : Radar Digital