BACA JUGA : Nahas!! Hendak Menyalip tapi Malah Dipukuli
Pagi itu, sekitar pukul 10.00, warga Dusun Krajan, Desa Sruni, Kecamatan Klakah, kaget dengan kepulangan Sahid yang diantar tukang ojek ke rumahnya. Maklum, Sahid yang telah berusia 63 tahun memang sudah diwanti-wanti. Dia tidak diperbolehkan pulang meskipun bebas dari penjara pada Lebaran tahun lalu.
Sebab, kepulangannya bakal mengundang petaka. Keluarga Nasari, seseorang yang dulu dibunuh oleh Sahid, masih berharap bisa bertemu untuk melakukan balas dendam. Benar saja, sekitar pukul 11.00, Joto, anak Nasari, bertamu ke rumahnya. Melihat Sahid lengah, Joto langsung melayangkan senjata tajam mengenai lehernya hingga meninggal dunia.
Sekretaris Desa Sruni Susmita Audina mengatakan, peristiwa berdarah itu telah diprediksi warga setempat cukup lama. Untuk menghindari pertumpahan darah antarkeluarga itu, pihak desa sempat menyarankan Sahid untuk tidak pulang sampai kapan pun. Namun, saran itu tidak diindahkan hingga terjadi aksi dugaan balas dendam antarkeluarga.
“Mereka ini tinggalnya tidak jauh. Ya, mungkin sekitar 50 meter. Dalam kesehariannya memang kelihatannya tidak terjadi apa-apa. Namun, warga mengetahui kalau keluarga Nasari masih menyimpan dendam. Eh, seperti setor nyawa. Sahid malah pulang. Ya, kami sudah menduga akan ada peristiwa berdarah ini, dan benar,” katanya.
Sementara itu, Kapolres Lumajang AKBP Boy Jeckson mengatakan, peristiwa penganiayaan berat itu masuk kategori pembunuhan berencana. Sebab, saat bertamu, pelaku membawa senjata tajam. Ketika korban lengah masuk ke kamar, pelaku lalu mengikuti dan langsung menyabet leher korban hingga meninggal dunia.
“Setelah kami telusuri, ternyata ada historinya. Di mana si korban adalah mantan pelaku pembunuhan orang tua dari tersangka. Waktu itu korban sudah menjalani vonis 10 tahun dan menjalani hukuman 7 tahun penjara. Saat hari raya kemarin sudah bebas, dan baru hari ini pulang ke rumah diketahui oleh pelaku. Ini motifnya balas dendam,” pungkasnya. (son/c2/fid) Editor : Yohanes Pangestu