BACA JUGA : Pembunuh dan Pembakar Mahasiswa Unej Hanya Dituntut 20 Tahun
Prosesi pemakaman di TPU Jogoyudan itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suara tangis pecah dari keluarga. Sebab, tidak ada satu pun keluarga yang ikut memakamkan. Hanya petugas dari RS Bhayangkara, Unit PPA Polres Lumajang, pekerja sosial, dan Dinsos P3A saja.
Memang, bayi laki-laki yang ditemukan Satiyem itu tanpa bapak dan ibu. Bahkan saat ditemukan, tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh mungilnya. Bayi itu dibiarkan telanjang di lantai kamar mandi. Mirisnya, kepala sang bayi menghadap lubang pembuangan dengan mulut tersumpal tisu. Sungguh tega ibu atau bapak bayi yang membuangnya.
Pekerja Sosial Perlindungan Anak (Peksos PA) Kementerian Sosial di Lumajang Hasan Baidawi mengatakan, sejak mendapat informasi penelantaran bayi, dia bersama tim langsung bergerak cepat. Kerja sama dan komunikasi intens dengan RS Bhayangkara terus dilakukan. Sebab, saat ditemukan kondisi bayi tidak normal.
“Kondisi bayi prematur. Diperkirakan usia bayi saat dilahirkan sekitar 34 minggu. Makanya, sejak ditemukan itu langsung masuk tabung inkubator agar kondisinya membaik,” ujarnya. Selanjutnya, perawatan intensif dilakukan. Bantuan untuk bayi juga berdatangan. Mulai dari donatur, dan Ketua Bhayangkari Polres.
Tak hanya itu, sejumlah keluarga juga hendak mengadopsi bayi tersebut. Namun, takdir berkata lain. Belum sempat diadopsi, kondisi bayi seberat 1,9 kilogram itu memburuk sejak Minggu malam (11/9). Meski penanganan sudah maksimal, akhirnya bayi berusia sebelas hari itu meninggal, kemarin. Proses pemakaman pun langsung dilakukan.
“Yang pasti, selama perawatan itu petugas sudah maksimal. Kondisi bayi yang prematur juga memburuk-membaik. Selalu naik turun. Oleh karena itu, kami update terus keadaannya setiap jam,” jelasnya.
Sebagai informasi, sebelum bayi dimandikan, disalatkan, dan dimakamkan, bayi itu diberi identitas. Namanya Muhammad At Taqwa, nama yang diabadikan dari lokasi penemuan bayi. (kin/c2/fid) Editor : Safitri