BACA JUGA : Terdakwa Kasus Ritual Maut Pantai Payangan Divonis 3 Tahun
Dia melihat lansia adalah kelompok rentan karena kondisi kesehatan lansia bisa fluktuatif. Terkadang stabil atau terkadang lemah. “Di masa pandemi yang belum juga berakhir vaksinasi lengkap Covid-19 sangat diperlukan sebagai ikhtiar dari perlindungan terhadap penyakit Covid-19,” jelas pensiunan aparatur sipil negara (ASN) Lumajang itu.
Pria yang acapkali menjadi MC (master of ceremony) di berbagai acara dan juga ketua RT itu juga aktif di berbagai komunitas seperti komunitas takmir masjid, Komunitas Pensiunan Pemkab Lumajang, Komunitas Keluarga Berdaya (PKK), Komunitas Peduli Perempuan dan Anak, Komunitas Lansia Berdaya, Komunitas Seni Peran, Komunitas Alumni Anantakupa, Komunitas Senam Tera, hingga Komunitas Senam Jantung Sehat. “Saya melakukan sosialisasi vaksinasi lengkap Covid-19 terutama pada kelompok lansia. Diawali dengan ngobrol-ngobrol santai dengan sesama anggota komunitas. Tak hanya itu, dalam materi siaran saya sebagai penyiar radio, saya sering menyisipkan pesan bahwa vaksinasi lengkap itu penting kepada pendengar saya,” katanya.
Pria yang lahir pada 2 Juli 1959 ini mengatakan, tidak ada keraguan bagi dirinya untuk melakukan vaksinasi lengkap Covid-19. Sebab, dirinya yakin betul dengan vaksinasi, kekebalan kelompok masyarakat terhadap virus korona akan terbentuk. Sehingga dapat mengurangi potensi penularan penyakit. “Banyak dari lansia tidak mau divaksinasi karena takut efek sampingnya. Terlebih untuk lansia yang memiliki komorbid,” paparnya.
Dia sendiri setelah divaksinasi tidak mengalami efek yang membuat sakit atau keluhan kesehatan. “Hanya merasa lapar setelah divaksinasi dan dengan makan hilang laparnya,” tambahnya.
Berdasarkan pengalaman dalam melakukan vaksinasi tersebut, ia menceritakan kepada mereka yang masih ragu atau memiliki ketakutan dengan efek vaksinasi Covid-19. “Saya meminta para lansia tidak mudah percaya berita hoax mengenai efek yang ditimbulkan vaksinasi Covid-19. Sebaiknya mencari informasi yang tepat atau mendatangi petugas kesehatan di puskesmas atau dokter,” ujarnya.
Dia juga menjelaskan, proses seleksi atau screening kesehatan merupakan proses yang harus dilalui oleh setiap peserta vaksinasi Covid-19. Sehingga, lansia dengan komorbid tidak perlu khawatir dengan kondisi kesehatannya. “Jika kondisi kesehatannya kurang stabil, maka kegiatan pemberian vaksin akan ditunda,” tambahnya.
Gatot juga selalu mendorong agar melakukan vaksinasi dan pelaksanaan protokol kesehatan. “Lansia sebaiknya selalu memakai masker, meski berada di ruang terbuka, karena kasus Covid-19 masih ditemukan. Selain itu, kebiasaan mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan juga perlu menjadi pembiasaan. Serta tak lupa untuk memiliki pola hidup sehat, makan makanan bergizi, dan istirahat yang cukup,” tambahnya.
Dengan dinobatkannya ia menjadi Pahlawan Lansia SIAP Lumajang, Gatot semakin bersemangat untuk mendukung program vaksinasi. Serangkaian kegiatan sosialisasi vaksin dia lakukan bersama dengan Dinkes Lumajang, mulai dari wawancara di Radio Warna FM Pasuruan, kegiatan IG live bersama influencer dan kehadirannya sebagai pembicara di acara Hari Lanjut Usia Nasional di Dinkes Lumajang. “Ke depan upaya sosialisasi vaksinasi lengkap Covid-19 ini akan terus saya lakukan,” tutupnya. (c2/dwi) Editor : Safitri