BACA JUGA : Pelaksanaan Kurikulum Merdeka, Guru Diberi Kebebasan Berkreasi
Muhtar, penjual di pasar, mengaku bahwa tusuk sate yang dulu jadi incaran warga kali ini justru sepi pembeli. Menurutnya, hal ini disebabkan penyakit mulut dan kuku (PMK) yang melanda Lumajang. Akibatnya, warga lebih berhati-hati untuk mengonsumsi daging.
Tak heran jika biasanya penjual bisa menyiapkan stok hingga ratusan dalam jangka beberapa hari. Lebaran kali ini dia justru menyiapkan stok kurang dari 200 bungkus. Terbukti, saat ini permintaannya hanya sedikit, dan baru terjual tidak sampai setengahnya. “Ini saja 200 bungkus belum habis. Tahun sebelumnya 300 bungkus langsung cepat habis,” ucapnya.
Hal serupa juga dialami Imam Solihin. Tusuk sate yang sudah siap jual dan distok jauh-jauh hari ternyata tidak laku. Bahkan ada barang miliknya yang sudah mulai rusak. Yaitu, sudah mulai rapuh dan berdebu. Jika tetap dijual, saat digunakan pun akan mudah patah dan tidak tajam lagi. “Sama, sepi juga sekarang. Ini ada yang sudah mulai rusak tusuknya,” ujarnya.
Penjual hanya bisa pasrah meskipun tidak banyak yang terjual. Mereka berharap kondisi itu segera pulih. Agar penjualannya bisa normal kembali. (mg3/c2/fid) Editor : Safitri