Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, plengsengan itu longsor lantaran tak kuat menahan derasnya air hujan. Letak plengsengan itu memang berada di salah satu belokan jalan dan di samping sungai. Praktis, tanah tebing tidak kuat menahan laju air. Plengsengan pun longsor dan membahayakan pengendara.
“Sudah hampir sebulan kondisinya seperti itu. Penyebabnya hujan deras. Awalnya memang kecil dan sedikit. Tapi, sekarang sudah sangat lebar dan hampir mengenai jalan. Semoga segera ada penanganan dari pemerintah,” ungkap Hanep, warga setempat.
Pemerintah setempat langsung turun tangan. Papan peringatan di dua arah sudah terpasang. Garis polisi dan pembatas juga dipasang agar pengendara aman. Pantauan di lapangan, tebing penahan yang longsor itu hanya tersisa beberapa sentimeter saja dari jalan. Bahkan di dua titik, kikisan itu berhenti tepat mengenai jalan. Akibatnya badan jalan mulai retak.
Camat Randuagung Iskandar mengatakan, pemberian rambu peringatan dan pembatas hanya bersifat sementara. Penanganan lanjutan akan dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Tata Ruang (DPUTR), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang. Meski demikian, pihaknya terus mengawal agar perbaikan segera dilakukan.
“Kondisinya sangat membahayakan. Sementara ini kami pasang rambu dan pembatas saja. Laporan juga sudah kami buat dan diteruskan ke DPUTR dan BPBD. Mereka sudah memeriksa ke lokasi,” katanya.
Perhitungan biaya perbaikan sudah dibahas. Namun, mengenai kepastian penanganan, pihaknya masih terus menunggu informasi dari pemkab. Oleh sebab itu, dia mengimbau agar warga lebih berhati-hati saat melintas di jalan tersebut. Terutama saat hujan dan malam hari.(kin/c2/idd) Editor : Safitri