Baca Juga : Kasus Bayi Dalam Sumur Terkuak, Ibu Kandung Tersangka Motifnya Mengejutkan
Akibat peristiwa tersebut, jalur Curahkobokan yang biasanya digunakan warga untuk menyeberang, ditutup untuk sementara waktu. Apalagi, tak selang lama erupsi terjadi, langit di sekitar kawasan pegunungan terlihat gelap. Berikutnya, kawasan kota ikut menyusul dan turun hujan gerimis hingga deras.
Yuda Prinardita Pura, salah satu petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Pos Gunung Sawur, menyebutkan, selama pukul 06.00 hingga 12.00. Alat seismograf mencatat APG itu memiliki amplitudo maksimal 20 milimeter dengan durasi sekitar 294 detik.
Secara visual gunung yang masih berada di level 3 ini mengeluarkan letusan sebanyak 2 kali. Selain itu, APG itu terlihat jelas membumbung setinggi kurang lebih satu kilometer. “Ketinggian asap kurang lebih 800 sampai 1.000 meter berwarna putih kelabu condong ke arah barat laut,” tambahnya.
Hingga kini warga terus diminta selalu waspada terhadap aktivitas gunung. Terutama bagi warga yang masih nekat menyeberang aliran lahar di Curahkobokan. Sebab, aktivitas gunung dengan status siaga cenderung tidak menentu. Dikhawatirkan, ketika menyeberang terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
“Mewaspadai potensi APG, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” pungkasnya.
Jurnalis : Atieqson Mar Iqbal
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Safitri