Seperti unggahan Elien Tri Kenyo Warni. Menurutnya, masyarakat Lumajang saat menemukan sayur kelor di tanah rantau seperti menemukan sesuatu yang sangat berharga. “Wong Lumajang lek nemu jangan kelor nang perantauan rasane sesuatu banget. Iyo gak, lur? Mbiyen lek mulih Lumajang ben omah natakno dahar. Sampe bingung noto weteng. Saiki opo pancet ngunu yo, lur?” tulisnya disertai dua foto suguhan sayur kelor.
Unggahannya itu membuat sejumlah akun ikut berkomentar. Akun Bundae Navisa misalnya. Dia mengungkapkan, sudah dua tahun sejak merantau tidak mengonsumsi sayur kelor. Sementara, Romli Al-Husni Haq kesulitan mencari sayur kelor. “Neng Sidoarjo golek kelor rodok angel. Sekali oleh, akeh seng takon, enak a? Yo enak. Eh akeh seng jajal sampek gak keduman kelore,” tulisnya. Akun Cinta Kasih yang sedang merantau di Hongkong juga mengungkapkan hal yang sama. “Neng kene angel golek kelor sampe pengen,” tulisnya.
Sementara itu, Alyschotimah senang bisa makan dengan sayur kelor. Dia juga sangat menyukai hal itu. “Aku juga suka sayur kelor. Dulu sebelum nikah dapat orang Lumajang tidak tahu kalau kelor bisa dimakan,” komentarnya.
Bagi masyarakat Lumajang, sayur kelor tidak boleh dilupakan saat menyantap makanan. Apalagi dengan sambal, tempe, tahu, dan ikan laut. Mantap tenan!
Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer :
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Safitri