Artinya, getaran gempa bumi yang melewati kawasan pegunungan tersebut lebih tinggi daripada getaran di kawasan lain. Wajar saja, sebagian besar rumah warga setempat mengalami kerusakan cukup parah. Bahkan, ada yang sampai ambruk tak tersisa. Sebab, lapisan batuan atau struktur tanahnya cenderung lunak.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, ada beberapa hasil survei pengukuran yang disampaikan kepada Pemkab Lumajang. Pertama, kerusakan rumah yang sampai roboh disebabkan oleh konstruksi bangunan yang tidak menyesuaikan dengan kondisi alam.
Kedua, lapisan batuan di tebing lereng menyebabkan getaran perbesaran getaran sampai enam kali.
“Fondasi bangunan harus mampu bertahan dari amplifikasi lebih dari empat. Jadi, konstruksinya tidak boleh sembarangan. Letaknya harus juga diperhatikan, jangan di tebing lereng. Rekomendasi yang kami berikan adalah kalau terpaksa di situ, konsekuensinya fondasinya harus diperkuat untuk menahan amplifikasi,” jelasnya.
Menurutnya, lempeng Indo-Australia yang ada di sebelah selatan menunjang masuk ke bawah lempeng Eurasia. Tepatnya masuk di bawah Pulau Jawa. Posisi pusat gempa pada kedalaman sekitar 80 kilometer, yaitu posisi tepat pada flat. Flat itu batas pergeseran batu. Di sana karena terjadi dorongan, lalu bagian yang masuk itu menekuk dan patah.
Dirinya juga telah memetakan zona mana saja yang memiliki lapisan batuan keras, sedang, dan lunak. Harapannya, masyarakat lebih jeli lagi dalam membangun rumah. Fondasi bangunan harus diperkuat dengan menyesuaikan alam. “Gempa itu biasanya getarannya terus menurun dan habis,” pungkasnya.
Jurnalis: Atieqson Mar Iqbal
Fotografer: Atieqson Mar Iqbal
Editor: Hafid Asnan Editor : Safitri