Terpengaruhnya ekosistem sangat terlihat terhadap Danau Klakah. Salah satu dampak yang jelas adalah banyaknya ikan keramba milik warga yang mati. "Kalo sudah mati pasti rugi. Ikan tidak bisa dijual ke luar kota, untuk ikan konsumsi bisa diolah. Namun kalo ikan hias terpaksa rugi, makanya harus cepat dipanen sebelum terjadi," ujar Sahroni warga Desa Kudus Kecamatan Klakah.
Dia mengaku bukan pemilik keramba. Namun hanya sebagai kerabat yang ikut bekerja membantu. Ada banyak varietas ikan yang hidup di keramba tersebut. Salah satu jenis ikan yang terkenal adalah Ikan Koi. Sedangkan untuk ikan konsumsi adalah Ikan Nila, Mujair, dan Gabus.
Sementara Kasi Produksi dan Usaha Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Lumajang, Joko Sulistyono menjelaskan, bahwa fenomena upwelling tersebut adalah pergerakan massa air secara vertikal. Fenomena ini ditandai dengan ikan yang mulai mabuk atau mengambang di permukaan danau.
Kondisi seperti upwelling tersebut membuat petani keramba harus memanen ikan lebih awal. Dia juga mengungkapkan, bahwa sebagian pemilik keramba sudah ada yang mengantisipasi fenomena upwelling tersebut. Sehingga tidak terlalu merugi.
Dia juga menjelaskan, proses kerja fenomena alam adalah karena perbedaan suhu dan tekanan angin. Sehingga mengakibatkan massa air lapisan bawah naik ke atas. Air yang naik, bergerak secara vertikal dan membawa muatan seperti material belerang dan zat mematikan yang lain. "Akibatnya biota hidup seperti ikan bisa mati," pungkasnya. (raa/hdi) Editor : Radar Digital