Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sering Dikira Migrain atau Sakit Telinga, Ternyata Sumber Masalahnya Ada di Sendi Rahang Anda

Linda Harsanti • Rabu, 24 Juni 2026 | 06:16 WIB
Temporomandibular Disorder (TMD)”, yaitu gangguan pada sendi yang menghubungkan rahang bawah dengan tengkorak kepala Anda. 
Foto : Lim (2025)
Temporomandibular Disorder (TMD)”, yaitu gangguan pada sendi yang menghubungkan rahang bawah dengan tengkorak kepala Anda. Foto : Lim (2025)

RADAR JEMBER - Pernahkah Anda saat bangun pagi hari merasakan denyut di pelipis yang mirip migrain? Atau, pernahkah Anda bolak-balik ke dokter THT karena telinga terasa penuh dan berdenging, tetapi dokter bilang tidak ditemukan kelainan saraf atau kondisi telinga Anda sehat-sehat saja?

Jika jawabannya iya, Anda tidak sendirian. Banyak orang menghabiskan waktu bertahun-tahun dan meminum berbagai macam obat pereda nyeri untuk menyembuhkan "sakit kepala misterius" atau “dengingan telinga yang sangat mengganggu” mereka. Padahal, kambing hitam yang sebenarnya berada di tempat yang sama sekali tidak mereka duga : “sendi rahang”.

Secara medis, kondisi ini disebut dengan “Temporomandibular Disorder (TMD)”, yaitu gangguan pada sendi yang menghubungkan rahang bawah dengan tengkorak kepala Anda.

Mengapa Nyeri Rahang Bisa "Menipu" Otak Kita?

Coba letakkan jari Anda tepat di depan lubang telinga, lalu buka dan tutup mulut Anda. Engsel yang bergerak di bawah jari Anda itulah yang disebut sendi temporomandibula atau Temporomandibular Joint (TMJ). Sendi ini bekerja sangat keras setiap hari untuk melakukan aktivitas berbicara, mengunyah, dan menelan.

Lalu, mengapa masalah di rahang bisa terasa seperti migrain atau sakit telinga? Jawabannya adalah karena jaringan saraf yang rumit.

Saraf yang mengontrol sendi rahang berdekatan dan saling bercabang dengan saraf yang menuju ke kepala, wajah, dan telinga. Ketika otot-otot di sekitar rahang mengalami ketegangan hebat atau sendinya meradang, sinyal nyeri yang dikirim ke otak sering kali bias. Fenomena ini disebut dengan “referred pain” (nyeri alihan) — di mana sumber masalahnya ada di rahang, tetapi otak Anda menerjemahkannya sebagai sakit kepala atau sakit telinga.

Cara Membedakan Sakit Kepala Biasa dengan Gangguan Rahang

Untuk memastikan apakah keluhan yang Anda rasakan selama ini bersumber dari rahang, perhatikan beberapa ciri khas berikut:

Pola sakit kepala. Sakit kepala akibat gangguan rahang biasanya bersifat tumpul, tegang, dan terasa seperti diikat di sekitar pelipis atau bagian belakang kepala. Nyeri ini sering kali memburuk di pagi hari saat bangun tidur atau setelah Anda mengunyah makanan yang keras.

Sensasi di telinga. Anda merasakan telinga seperti tersumbat, penuh, atau berdenging (tinnitus), yang terasa lebih parah saat Anda menggerakkan mulut.

Bunyi pada rahang. Ini adalah tanda yang paling valid, perhatikan apakah ada bunyi “klik”, “pop”, atau “krek-krek” saat Anda membuka mulut lebar-lebar. Kadang kala, rahang juga terasa kaku atau sempat "terkunci" (lockjaw) sejenak.

Kebiasaan Sepele yang Dapat Merusak Sendi Rahang

Gangguan sendi rahang tentunya tidak muncul begitu saja. Sering kali, kondisi ini dipicu oleh kebiasaan sehari-hari yang kita lakukan tanpa sadar, di antaranya:

Kebiasaan menggertakkan gigi (Bruxism). Kebiasaan mengatupkan gigi dengan kencang atau menggertakkannya secara tidak sadar, terutama saat stres atau ketika tidur malam.

Kebiasaan mengunyah satu sisi. Menggunakan satu sisi rahang untuk mengunyah makanan membuat beban kerja sendi rahang menjadi tidak seimbang.

Postur tubuh dan kebiasaan kecil. Sering menopang dagu dengan tangan atau menjepit telepon di antara telinga dan bahu dalam waktu lama bisa memicu ketegangan otot rahang.

Pertolongan Pertama di Rumah

Jika Anda mulai merasakan ketegangan atau bunyi yang mengganggu pada rahang, ada beberapa langkah mandiri yang bisa dicoba :

1. Kompres hangat/dingin. Tempelkan kompres hangat di area pipi depan telinga selama 15 menit untuk mengendurkan otot yang kaku. Jika rahang mendadak terasa nyeri akut setelah mengunyah, gunakan kompres dingin untuk meredakan radang.

2. Istirahatkan rahang. Pilih makanan yang lunak untuk sementara waktu, hindari makanan yang kenyal (seperti boba atau daging alot) dan makanan keras (seperti es batu atau keripik).

3. Hindari membuka mulut terlalu lebar. Saat menguap, tertawa, atau bernyanyi, tahan rahang bawah Anda dengan tangan agar sendi tidak meregang berlebihan.

4. Kelola stres. Kondisi stress dapat mempengaruhi kerja saraf yang mensarafi sendi dan otot sekitar rahang sehingga mengencang secara tidak sadar terutama di malam hari.

Kapan Harus ke Dokter dan Ke Mana Harus Berobat?

Jika Anda sudah mencoba langkah di atas tetapi rahang tetap terasa nyeri, semakin kaku, atau bahkan sampai membuat Anda kesulitan membuka mulut untuk makan, itu adalah tanda Anda harus segera mencari bantuan profesional.

Ke dokter mana Anda harus pergi ?

Pintu utama untuk mengatasi masalah ini adalah Dokter Gigi

Dokter gigi akan memeriksa keselarasan gigitan Anda serta mengevaluasi penyebab gangguan tersebut. Jika kondisinya memerlukan penanganan lebih lanjut, dokter gigi akan merujuk Anda ke Dokter Gigi Spesialis tertentu, misalnya Spesialis Prostodonsia, bila terjadi masalah pada kesesuaian gigitan dan sendi rahang untuk dibuatkan pelindung gigi khusus (night guard/splint), atau ke Spesialis Bedah Mulut jika ditemukan kerusakan struktur sendi yang cukup parah.

Tubuh kita adalah sistem yang saling terhubung. Jadi, daripada terus-menerus mengonsumsi obat sakit kepala yang hanya meredakan gejala sementara, cobalah periksa kondisi rahang Anda. Bisa jadi, kunci kesembuhan Anda selama ini berada di sendi rahang yang sering terlupakan.

Penulis : Dr. drg. Dwi Merry Christmarini Robin, M. Kes (Dosen FKG Universitas Jember)

       

Editor : Linda Harsanti
#Universitas Jember #kesehatan gigi #dokter gigi