BADEAN, Radar Ijen – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Penyakit menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis ini umumnya menyerang paru-paru, namun juga dapat menyebar ke organ tubuh lain jika tidak ditangani dengan baik.
Dokter spesialis paru RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso, dr. Yus Priyatna Adryanto menegaskan bahwa TBC bukan penyakit turunan maupun akibat hal mistis. “TBC adalah penyakit infeksi menular yang bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan teratur,” ujarnya.
Baca Juga: CEK LENGKAP Ini Daftar Tarif Khusus Kereta Api di Wilayah Daop 9 Jember, Mulai Harga Rp 45 ribu
Ia menjelaskan, penularan TBC terjadi melalui udara (airborne), yakni saat penderita batuk, bersin, atau berbicara tanpa menutup mulut.
Percikan dahak yang mengandung kuman dapat terhirup orang lain dan masuk ke paru-paru.
“Risiko penularan akan meningkat pada orang dengan daya tahan tubuh rendah,” jelasnya.
Gejala utama TBC yang paling umum adalah batuk berdahak selama dua minggu atau lebih. Selain itu, penderita juga bisa mengalami demam berkepanjangan, batuk darah, nyeri dada, berkeringat di malam hari, hingga penurunan berat badan.
“Kalau mengalami gejala tersebut, sebaiknya segera periksa ke fasilitas kesehatan,” imbaunya.
Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan dilakukan melalui tes dahak sebanyak dua kali.
Pemeriksaan tambahan seperti rontgen dada juga dapat dilakukan untuk memperkuat hasil diagnosis.
“Meski hasil dahak negatif, tetapi gejala mengarah ke TBC, tetap perlu pemeriksaan lanjutan,” katanya.
Baca Juga: Fasilitas Bakal Ditanggung Daerah, DPRD Bondowoso Nilai Peran PPL Perlu Disinkronkan
Pengobatan TBC dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal atau intensif, pasien wajib mengonsumsi obat setiap hari selama 2–3 bulan, kemudian dilanjutkan tahap lanjutan selama 4–5 bulan. “Kunci keberhasilan pengobatan adalah kepatuhan minum obat sesuai anjuran tenaga kesehatan,” tegasnya.
Ia mengingatkan, penghentian pengobatan sebelum waktunya dapat menyebabkan TBC resisten obat (TB-RO) yang lebih sulit ditangani. Karena itu, pasien diminta tidak menghentikan terapi secara sepihak.
“Jangan berhenti minum obat sebelum dinyatakan sembuh oleh tenaga kesehatan,” pesannya.
Selain pengobatan, pencegahan juga penting dilakukan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. “Gunakan masker, tutup mulut saat batuk, jangan meludah sembarangan, dan pastikan ventilasi rumah baik,” tandasnya. Dengan langkah tersebut, penyebaran TBC diharapkan dapat ditekan dan derajat kesehatan masyarakat meningkat. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi