Radar Jember – Pergelangan kaki terkilir bisa terjadi pada siapa saja, baik saat olahraga maupun kecelakaan ringan.
Penanganan yang salah justru memperparah cedera dan membuat waktu pemulihan lebih panjang.
Salah kaprah yang paling sering terjadi adalah anggapan bahwa pergelangan yang baru saja terkilir harus segera dipijat.
Padahal tindakan itu berisiko tinggi.
Fisioterapis di Fisioroom Jember, Dellania Grandifolia, menegaskan, memijat pergelangan kaki pada jam - jam awal cedera justru bisa merusak jaringan yang sedang mengalami robekan. Pada momen terkilir, tubuh membentuk peradangan akut, pembuluh darah melebar, dan ada serabut ligamen yang tertarik atau robek kecil.
Pemijatan hanya akan menekan jaringan yang sedang luka sehingga bengkak makin besar dan nyeri lebih hebat.
“Apalagi kalau semisal ada retakan kecil di tulang, memijat hanya akan memperparah kondisinya,” ujarnya.
Alih-alih dipijat, penanganan yang dianjurkan adalah metode yang disebut RICE yang merupakan singkatan dari Rest, yakni istirahat total dan hentikan beban, Ice yang berarti kompres es selama 10–15 menit untuk menahan pembengkakan, Compression atau membalut kaki dengan kain elastis untuk mencegah pembengkakan makin besar dan Elevation yaitu memposisikan kaki lebih tinggi dari jantung agar bengkak cepat turun.
Penanganan ini penting dilakukan pada 48–72 jam pertama karena menjadi fase paling menentukan seberapa cepat jaringan pulih.
Setelah bengkak dan suhu daerah cedera berangsur turun, umumnya hari ke-4 sampai ke-7 kata Della barulah pemijatan ringan diperbolehkan dengan tujuan melancarkan aliran darah, mengurangi kekakuan, dan membantu mengembalikan mobilitas sendi.
Pada fase ini kompres dingin juga bisa diganti menjadi kompres hangat.
“Itu untuk meningkatkan sirkulasi sehingga jaringan yang rusak lebih cepat mendapatkan nutrisi,” tambahnya.
Dela menambahkan, pemahaman soal fisioterapi di Jember masih tergolong minim.
Banyak warga mengira fisioterapi hanya untuk pasien pascaoperasi atau stroke, padahal cedera sehari-hari seperti terkilir juga membutuhkan intervensi yang tepat.
Ia menyebut pasien yang datang didominasi atlet sepak bola, basket, hingga pelari karena lebih memahami pentingnya pemulihan yang benar agar tidak terjadi cedera ulang.
“Di Jember penanganan terkilir ke tenaga profesional masih cukup minim, biasanya yang datang atlet atau malah orang dari luar kota,” tutupnya.(yul)
Editor : M. Ainul Budi