PATRANG, Radar Jember - Meski gangguan kesehatan mental dapat dialami oleh siapa saja, generasi muda merupakan kelompok yang termasuk rentan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kasus terkait kesehatan mental yang terjadi pada kelompok usia ini.
Dokter kejiwaan RSD dr Soebandi Jember, dr Inke Kusumastuti mengatakan, meskipun tidak selalu menyebabkan kematian secara langsung, namun meningkatnya kasus bunuh diri dan self harm atau menyakiti diri sendiri pada generasi muda perlu menjadi perhatian. Tak jarang, gangguan jiwa juga berdampak pada kesehatan fisik yang menyebabkan penurunan produktivitas.
Banyak generasi muda tidak dapat menjalani pendidikan dan bekerja secara optimal karena mengalami berbagai masalah kesehatan mental. Seperti kecemasan berlebihan, skizofrenia, bipolar, kecanduan, hingga depresi.
Inke menerangkan, untuk dapat dikatakan sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), ada tiga hal yang harus dipenuhi.
Pertama, memiliki gejala terkait caranya berpikir, menghayati, mengekspresikan emosi, dan berperilaku. Kedua, orang tersebut merasakan distres atau ketidaknyamanan bagi orang-orang di sekitarnya.
Selain itu, penderita gangguan jiwa biasanya mengalami gangguan pada fungsi keseharian. Gangguan yang ringan pada umumnya menyebabkan penurunan performa kerja atau sekolah dan sosialisasi.
“Jika gangguan sudah lebih berat, maka fungsi dasar sehari-hari seperti makan, tidur, dan merawat diri juga dapat terdampak secara signifikan,” katanya.
Inke menjelaskan, gangguan jiwa sering kali disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor. Mulai dari kerentanan psikis, kondisi fisik yang kurang baik, hingga berada dalam situasi problematik.
“Tidak semua orang dengan gangguan jiwa bila diajak bicara pasti nggak nyambung,” imbuhnya.
Sebagian besar orang dengan gangguan jiwa, kata dia, akan terlihat normal. Oleh karena itu, pentingnya saling peduli untuk mendukung deteksi dini. Serta penanganan segera terhadap gangguan jiwa.
Dia juga menyebut, terdapat istilah orang dengan masalah kejiwaan (ODMK). Orang-orang ini memiliki kerentanan yang tinggi, dan lebih berisiko untuk menjadi ODGJ dibandingkan orang yang tidak rentan.
Contohnya adalah orang-orang yang punya kepribadian rapuh atau hidup dalam lingkungan yang problematik dalam waktu lama.
“Mereka inilah yang juga perlu mendapat perhatian lebih. Misalnya, mungkin dengan lebih sering menanyakan kabarnya,” jelasnya. (ham/c2/dwi)
Editor : Radar Digital