Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Penularan Hepatitis Tak Selalu dari Makanan, Ini Saran Dari Dokter RSD dr Soebandi Jember

Radar Digital • Selasa, 6 Agustus 2024 | 20:10 WIB

 

Ilustrasi sakit perut. (Sumber: freepik/mdjaff).
Ilustrasi sakit perut. (Sumber: freepik/mdjaff).

KALIWATES, Radar Jember - Hepatitis menjadi penyakit yang cukup lama menjadi perhatian. Bahkan, sampai sekarang vaksin hepatitis termasuk imunisasi wajib yang diberikan kepada bayi dan balita.

Apalagi, Jember menjadi daerah yang beberapa kali kejadian luar biasa (KLB) hepatitis.

Terakhir, KLB hepatitis di Jember sebelum pandemi Covid-19, yaitu Desember 2019 lalu. Dinas Kesehatan (Dinkes) pada waktu itu pun menyasar PKL makanan daerah kampus dengan memberikan sarung tangan hingga hand sanitizer

Dokter spesialis penyakit dalam RSD dr Soebandi Jember, dr Hana Nadya SpPD, menjelaskan, hepatitis merupakan peradangan pada liver atau organ hati.

Kondisi tersebut dapat membuat hati mengalami pembengkakan, sakit, hingga penurunan fungsi.

 Berdasarkan hasil penelitian, ada lima virus penyebab penyakit tersebut. Mulai dari hepatitis A berupa makanan yang kotor atau tidak higienis (fecal oral). Sementara, hepatitis B, hepatitis, dan hepatitis D penularannya melalui kontak darah, cairan dari penderita, baik darah, sperma, maupun air kencing.

“Kalau hepatitis E hampir sama dengan yang A. Menular melalui makanan yang tidak bersih. Ini jenisnya bukan tingkatan. Banyak yang menyalahartikan ini sebagai tingkatan A, B, dan seterusnya,” tegasnya.

Dari jenis tersebut, hepatitis yang paling banyak ditemui serta dapat menyebabkan kerusakan hati berat hingga kematian adalah jenis B dan C.

Penularan jenis tersebut ada dua macam, yakni vertikal atau dari ibu ditularkan kepada janin yang ada dalam kandungannya. Serta horizontal atau penularan dari orang lain, seperti pasangan suami istri. “Penggunaan jarum suntik yang berulang dan tidak higienis juga dapat menjadi penyebab hepatitis,” imbuhnya.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah hepatitis adalah melakukan imunisasi atau vaksin hepatitis yang diberikan sebanyak 3 kali. Namun, jauh lebih penting adalah menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

“Kalau merasa terpapar atau memiliki kontak erat dengan orang yang terpapar, segera lakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan,” imbuhnya.

Perempuan yang akrab disapa dr Hana ini juga menyebut, gejala hepatitis terbagi menjadi dua berdasarkan perjalanan penyakitnya, yakni akut dan kronis.

Untuk hepatitis akut atau kejadiannya kurang dari enam bulan, biasanya gejala yang muncul adalah demam, mual, muntah, hingga badan menguning.

“Meskipun bergejala, tapi masih bisa sembuh dengan spontan,” tuturnya.

Sementara, hepatitis kronis atau perjalanan penyakitnya lebih dari enam bulan, biasanya tanpa disertai gejala secara jelas. Padahal dalam livernya terdapat virus yang hidup dan berkembang biak. Hal ini membuat risiko terserang sirosis bahkan kanker hati menjadi lebih besar. “Ketika hepatitis tidak diobati, otomatis, ya, komplikasi menuju ke arah kerusakan liver, kanker hati, bahkan kematian semakin tinggi,” pungkasnya. (ham/c2/dwi)

 

 

Editor : Radar Digital
#RSD Soebandi #hepatitis