Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pengobatan Terapi ARV untuk Pasien HIV

Safitri • Senin, 26 September 2022 | 19:37 WIB
Ilustrasi (Foto: Reza Arjiansyah)
Ilustrasi (Foto: Reza Arjiansyah)
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Secara global, keberhasilan penanggulangan HIV saat ini menunjukkan hasil yang menggembirakan. Melalui pendekatan fast track 90-90-90. Yakni mendeteksi orang yang terinfeksi pada 90 persen orang yang diperkirakan terinfeksi, memberikan terapi obat Antiretroviral (ARV) secara dini pada 90 persen orang yang terinfeksi, serta tercapai virus tak terdeteksi pada 90 persen orang yang diterapi ARV.

BACA JUGA : Pemanasan Dapat Kurangi Risiko Cedera sebelum Olahraga

Menurut dr Frida Lorita HP, dokter spesialis penyakit dalam di RSU Kaliwates, sesudah dinyatakan HIV positif, dilakukan pemeriksaan CD4 apabila tersedia. Deteksi penyakit penyerta serta infeksi oportunistik untuk menentukan stadium klinis HIV guna pemilihan panduan pengobatan yang akan digunakan. “Infeksi HIV diklasifikasikan menjadi 4 stadium klinis,” ujarnya.

Pada stadium 1, penderita HIV masih memiliki kekebalan tubuh yang baik hingga sering tidak bergejala dan sulit dibedakan dengan orang sehat. “Pasien sering terdiagnosis secara tak sengaja saat melakukan screening kesehatan,” ujarnya. Untuk syarat tertentu atau sebelum menjalani prosedur operasi atau tindakan invasif.

Seseorang akan mudah diduga terinfeksi HIV bila sudah berada pada stadium lanjut. Ketika sistem kekebalan tubuh sudah sangat menurun sehingga didapatkan infeksi oportunistik seperti TBC, toksoplasma otak, meningitis kriptokokus, infeksi jamur rongga mulut, dan lainnya.

“ARV diberikan secara dini kepada semua ODHA tanpa melihat stadium klinis maupun jumlah CD4,” katanya. Tujuan terapi ARV adalah tercapai kadar viral load tidak terdeteksi dan mengurangi risiko penularan. Terapi ARV mampu menurunkan penularan HIV sebesar 93 persen pada pasangan seksual non-HIV. Menurutnya, pemeriksaan CD4 tetap diperlukan untuk menentukan indikasi pemberian terapi profilaksis atau pencegahan terhadap infeksi oportunistik.

Tanpa terapi ARV atau keterlambatan dalam memulai pemberian ARV, sebagian besar ODHA akan mengalami imunodefisiensi secara progresif yang berlanjut hingga kondisi AIDS dan berakhir kematian. Jadi, pasien HIV/AIDS meninggal bukan karena virus HIV-nya, melainkan akibat infeksi oportunistik yang menjangkiti.

Sebelum memulai terapi ARV, pasien diberikan konseling untuk meningkatkan pengetahuan tentang HIV. Baik pencegahan, pengobatan, maupun pelayanan. Selain itu, kepatuhan minum obat, potensi kemungkinan efek samping, efek tidak diharapkan, terjadinya sindrom inflamasi rekonstitusi imun setelah memulai ARV. Konseling tetap dilakukan berkala setelah pemberian terapi ARV. “Mengingat pengobatan ARV berlangsung seumur hidup, ada risiko pasien merasa bosan ataupun putus asa. Terutama saat menghadapi efek samping obat yang mungkin terjadi,” ujarnya.

Dengan demikian, supporting system misalnya keluarga atau orang terdekat yang baik sangat dibutuhkan untuk mendampingi ODHA menjalani hari-harinya. Sayangnya, kebanyakan ODHA memilih untuk merahasiakan penyakitnya dari orang terdekat atau keluarga, sehingga banyak pasien yang kemudian putus obat atau lost to follow up dan menyebabkan pengobatan pasien HIV/AIDS tidak maksimal. (mg1/c2/nur) Editor : Safitri
#Jember #hiv