Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Belum Satu Tahun Disapih dari ASI, Stunting Ancam Anak-Anak

Safitri • Senin, 1 Agustus 2022 | 18:13 WIB
Ilustrasi Stunting/ Reza Arjiansyah for Radar Jember
Ilustrasi Stunting/ Reza Arjiansyah for Radar Jember
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Penanganan angka stunting di Jember menunjukkan perbaikan. Ada penurunan dari tahun ke tahun. Akan tetapi, dalam melakukan pencegahan dan penanganan kasus-kasus stunting, dibutuhkan proses panjang dan melibatkan banyak pihak.

BACA JUGA : Kecelakaan Kereta Api Dengan Odong-odong, Sembilan Orang Tewas

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, stunting di Jember terjadi karena banyak faktor. Mulai dari ibu yang menyusui bayi tak sampai dua tahun, makanan pengganti pasca-disapih dari ASI yang kurang tepat, hingga persoalan ekonomi. Ada pula seorang ibu yang menyapih anaknya karena urusan kerja serta sejumlah penyebab lain.

Dalam berbagai kasus itu, pencegahan dan penanganan membutuhkan langkah-langkah yang berbeda. Misalnya, untuk mencegah kasus stunting di kalangan orang kaya akan sangat berbeda dengan mereka yang secara ekonomi pas-pasan. Terkadang, ada anak orang yang stunting, namun karena malu, akhirnya sulit teratasi. Padahal, semakin kondisi itu dibuka, maka penanganan akan lebih mudah.

Saat ini, sekali pun kasus anak stunting menurun, namun masih ada pada angka yang signifikan (baca grafis persentase). Kasus stunting biasanya ditandai tinggi dan berat badan anak yang pertumbuhannya di bawah rata-rata. Pertumbuhan anak menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan bersama.

Salah satu kasus stunting yang kini dalam penanganan terjadi di Desa Jubung. Novita, seorang ibu berusia 30 tahun, mengaku, putranya, Adzril Rafiq Syahputra, sudah berusia tiga tahun dan sempat mengalami stunting. Tubuh anaknya kurus dan kecil. Karenanya, keluarganya mendapat pendampingan.

Novita menyebut, putranya disapih pada usia 9 bulan. Selepas itu, anaknya mengonsumsi beberapa bahan pangan, termasuk susu yang dijual di toko-toko.  “Selepas minum ASI, anak saya suka minum yang manis-manis. Seperti teh, susu biasa, jamu, bahkan kopi gelasan,” ujarnya.

Dikatakan, anaknya juga sulit untuk makan nasi. Bahkan, pagi hari hanya sekitar 2-3 sendok teh. Adzril kemudian makan pada malam harinya. “Kadang-kadang sehari tidak pernah makan nasi,” jelas Novita. Menurutnya, Adzril mau makan saat bermain.

Tak sampai di situ, Adzril juga sempat tak mau minum air putih. Padahal air putih bagus bagi kesehatan. “Mungkin karena tubuhnya yang kurus, jadi anak saya suka minum manis-manis dan tidak suka minum air putih,” imbuhnya. Di sisi lain, anaknya suka makan camilan dan nafsu makannya berkurang. Anaknya juga biasa minum jamu, tetapi jenis sinom.

Novita menjelaskan, dulunya sempat memberikan vitamin penambah nafsu makan. Tetapi, itu tidak berlangsung lama. “Saat ini berat badan Adzril menjadi 10 kilogram. Dulu berat badannya 8,4 kilogram. Alhamdulillah, sekarang naik meskipun makannya masih sedikit,” ujarnya. Dia berharap agar anaknya tumbuh seperti anak-anak pada umumnya.

Kasus anak stunting lain juga terjadi di Desa/Kecamatan Sukorambi. Ika Sujana, 35, warga setempat, memiliki empat anak. Dulu, anak pertamanya mengalami stunting dan anak keempat mengalami hal yang sama. Pertumbuhan badannya telat dibandingkan dengan anak-anak sebayanya.

Ika menyebut, anaknya berusia dua tahun. Dikatakan, sejak dirinya mengandung kerap sakit. “Sakit perut yang tidak wajar itu sering sekali,” ungkapnya. Bahkan, saat melahirkan juga sempat ada kendala.

Dikatakan, saat dirinya menyusui tidak mengalami kesulitan yang berarti. Namun, pasca-menyusui dan beralih ke makanan, sempat mengalami kesulitan. Anaknya sulit makan, terutama sayur-sayuran. “Susah makan sayur, maunya makan kering-keringan atau tidak nasi. Makan sama kecap itu aja. Kadang juga susah makan dan maunya jajan,” ungkapnya. Dia berharap anaknya bisa tumbuh normal seperti kebanyakan anak lain.

Terjadinya beberapa kasus tersebut menunjukkan bahwa ASI menjadi hal penting bagi anak. Selain itu, makanan pascasapih harus diperhatikan agar pertumbuhan anak tidak tertinggal dan menjadi anak yang stunting. (mg1/mg2/c2/nur) Editor : Safitri
#Jember #Headline #Stunting #Anak