BACA JUGA : Sukses Masuk Delapan Besar, KONI Apresiasi Tim Analisis Data
Di tengah keterbatasan obat farmasi yang ada, salah seorang dokter hewan di Kecamatan Panti memilih menggunakan obat tradisional dan herbal untuk menyembuhkan hewan dari penyakit tersebut. Agung Gumelar, salah seorang dokter hewan di Kecamatan Panti, menjabarkan bahwa penularan PMK sapi ini bisa dari berbagai cara. Salah satunya melalui udara maupun barang-barang yang dikenakan oleh manusia.
“Bahkan saya sehari bertugas bisa ganti pakaian sebanyak dua kali. Karena khawatir PMK-nya menular ke sapi lainnya,” ujar dia.
Sementara itu, vaksin yang disediakan oleh pemerintah saat ini untuk sapi terjangkit PMK jumlahnya masih terbatas. Karena itu, masih banyak sapi peternak belum kebagian.
Dirinya pun memberikan rekomendasi maupun saran dengan menggunakan obat alternatif mengatasi PMK. Salah satunya obat herbal yang diracik sendiri. Obat herbal ini didapat dari tumbuhan yang mudah ditemukan dan harganya terjangkau.
Agung menjelaskan, obat-obatan herbal itu berasal dari bahan yang mudah didapatkan. Mulai dari kunyit dan gula aren yang berfungsi untuk meningkatkan imunitas pada sapi. Serta antiseptik untuk percepatan penyembuhan luka pada sapi. Selain itu, juga bisa menggunakan pemutih pakaian dan pewangi pakaian untuk membersihkan kandangnya.
“Madu dan soda kue digunakan untuk luka pada bagian bibir sapi. Juga Betadine dan Rivanol digunakan untuk luka pada kuku sapi. Ada juga rumput muda sebagai makanan sapi agar dikunyah dan ditelan,” bebernya.
Dia menambahkan, para peternak wajib menjaga kebersihan kandang. Hal itu menjadi salah satu faktor mencegah penularan PMK. “Karena kandang yang kotor bisa jadi tempat bersarangnya kuman dan memicu sapi terjangkit PMK,” imbuhnya.
Sementara itu, salah seorang peternak di Desa/Kecamatan Panti, Ahmad Nidhom, mengaku, dirinya lebih memilih menggunakan obat alternatif. “Selain harganya lebih murah, obat-obatan tersebut mudah didapatkan,” katanya. (mg21/c2/bud) Editor : Safitri