BACA JUGA : Mantan Bos Bank di Jember Resmi Jadi Tersangka dari Kasus Kredit Fiktif
Rasa putus asa, marah, kemudian seolah tidak bisa melanjutkan sisa hidupnya adalah bagian efek stres tersebut. Hal itu disebabkan oleh berbagai faktor yang datang dari lingkungan seseorang itu sendiri. Di antaranya adalah faktor kesehatan, faktor keluarga, kemudian faktor pekerjaan, dan bisa juga dari faktor tekanan sosial.
Biro Psikologi Gemilang Psikologi, Marisa Selvy Helphiana Psikolog, mengimbau agar dapat mengelola rasa stres tersebut dengan baik. Sebab, kebanyakan efek stres selalu berdampak negatif. "Kalau sudah stres, biasanya berpengaruh terhadap tubuh, napas lebih cepat, detak jantung tidak teratur. Otot lebih tegang, sampai juga tekanan darah malah meningkat," terangnya.
Namun, selama seseorang bisa mengelola stres dengan baik, dapat meningkatkan kewaspadaan, sehingga lebih sigap menghadapi situasi penuh tekanan dan menjadi lebih produktif. "Kalau dikelola dengan baik, stres juga berdampak positif," imbuh Marisa.
Setiap orang yang mengalami stres, lanjut Marisa, dapat melakukan beberapa kegiatan sederhana untuk memulihkan stres menjadi bahagia. Pertama, dengan cara mengubah pola hidup. Usahakan untuk aktif bergerak setiap harinya. "Bergerak memicu munculnya hormon endorfin. Ini adalah hormon yang berfungsi memunculkan rasa bahagia, mood, atau konsentrasi," jelas psikolog asal Geladak Pakem tersebut.
Kedua, upayakan mengonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang. Agar otak mendapat asupan nutrisi yang maksimal. Hal ini juga memicu munculnya hormon endorfin yang membuat pikiran seolah bebas dari utang. "Pengaruhnya juga dari asupan, makanya penting untuk memilih jenis makanan," tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.
Selain itu, istirahat yang cukup juga penting untuk diperhatikan. Tidur yang baik tidak berpatokan kepada durasi lama tidur. Namun, setelah bangun dari tidur, kondisi badan lebih segar atau tidak. "Jadi, meskipun tidurnya 3 jam, misalnya, tapi bangun-bangunnya lebih segar. Itu tidur yang berkualitas namanya," tandas Marisa.
Dia juga menyarankan agar tetap bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Sebab, pikiran akan mendapat pencerahan saat melakukan komunikasi. "Bisa jadi pikiran mendapatkan saran dan masukan dari teman, sehingga mengembalikan semangat," pungkasnya. (mg4/c2/nur) Editor : Safitri