Hal itu ditengarai karena banyak faktor. Di antaranya, tingginya daya jual lantaran dipercaya sebagai salah satu olahan yang mampu menangkal virus Covid-19. sekaligus minimnya jumlah produksi karena terkendala cuaca.
Baru-baru ini, ada pula edukasi kesehatan yang tersebar di jagat maya terkait dengan khasiat beberapa bahan pokok. Yakni, terkait dengan makanan pendorong kerja vaksin. Seperti kita ketahui, vaksinasi menjadi salah satu pembahasan yang masih hangat hingga saat ini.
Memiliki salah seorang keluarga penyintas Covid-19 menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Aris Fandi Fathoni. Salah seorang warga Kecamatan Ambulu itu mengaku trauma meski tak terdampak secara langsung. Salah satu antisipasinya adalah dengan edukasi kesehatan terkait dengan Covid-19.
Pada salah satu media, pria yang berusia 24 tahun itu menerangkan bahwa seseorang yang sudah divaksin bisa memakan makanan yang mengandung vitamin A, protein, vitamin E, dan zinc untuk memaksimalkan kerja vaksin. Jadi, bisa digunakan salah seorang keluarganya yang menjadi mantan pasien Covid-19 untuk mempertebal antibodinya. “Makanan yang mengandung vitamin A seperti wortel, brokoli, ubi jalar, bayam, paprika, dan telur,” paparnya.
Sementara, untuk makanan yang mengandung protein, ada makanan laut, kacang-kacangan, serta biji-bijian tidak berwarna. Lalu, mengandung vitamin C seperti pepaya, stroberi, jeruk, tomat, jambu biji, dan kiwi. “Kalau yang mengandung zinc, terdapat pada daging sapi, hati ayam, dan keju,” lanjutnya.
Lalu, apakah edukasi kesehatan itu benar? Jawa Pos Radar Jember coba mengonfirmasi salah seorang dokter yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi. “Ya, tidak sepenuhnya benar,” ungkap dr Angga Mardro Raharjo SpP.
Menurut dia, jika berlebihan juga tidak baik untuk kesehatan secara umum. Dia menegaskan bahwa yang pasti, harus memakan makanan dengan gizi seimbang. Tujuannya, agar semua kebutuhan tubuh tercukupi, sehingga bisa membentuk antibodi pascavaksin.
Jika hanya mengonsumsi beberapa bahan pokok tertentu untuk meningkatkan antibodi, dokter spesialis paru itu menambahkan, hal tersebut bisa mengakibatkan tingginya daya beli bahan pokok itu. Dikhawatirkan bisa menjadi salah satu alasan berujung kelangkaan salah satu bahan pokok. “Akibatnya, kelangkaan yang terjadi pada bawang putih pada awal pandemi bisa terulang,” pungkasnya.
Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri