LOJEJER, Radar Jember - Banjir yang menimpa warga di Kecamatan Wuluhan patut menjadi perhatian bersama.
Hal penting yang perlu dipecahkan yakni penyebab banjir. Ini untuk mencegah agar ke depan tidak terjadi banjir yang lebih besar.
Pascabanjir yang merendam ribuan rumah warga, Senin (6/1) dini hari, terjadi banjir susulan. Ini terjadi di Dusun Kepel, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan.
Hingga siang dan sore kemarin, masih ada 100 KK yang terdampak dari 600 KK sebelumnya.
Banjir susulan kemarin air mencapai ketinggian 30 sentimeter. Seperti yang terjadi di rumah Yayuk dan Sugiono, warga Dusun Kepel, RT 007/RW 008, Desa Lojejer.
Bukan hanya itu, rumah Jumari, 55, warga setempat, juga masih tergenang luapan air sungai yang bercampur lumpur. Saat itu, ada dua warga terpaksa diungsikan. Sejumlah kandang ternak seperti kambing dan sapi juga tergenang. Beberapa orang pun membuat rakit.
Banjir ini sama seperti sebelumnya, yaitu Sungai Clutak dengan sungai jurusan Bedadung meluap. Meski dampaknya tidak begitu luas dibanding sebelumnya, namun arus air yang menggenangi rumah warga cukup deras.
Kepala Desa Lojejer Moch. Soleh didampingi anggota Tagana Dinsos Jember dan pihak Kementerian Sosial RI langsung melakukan maping rumah yang masih terdampak, kemarin.
"Saat ini ada 100 KK yang terdampak, karena masih ada banjir susulan. Sebenarnya air yang menggenangi halaman dan pekarangan rumah warga sudah mulai surut sejak Minggu (5/1) pagi. Tetapi, sore hari hingga malam hujan lagi cukup deras. Sehingga air kembali naik," kata Soleh kepada Jawa Pos Radar Jember di lokasi banjir.
Dikatakan, pemerintah desa sudah berkoordinasi dengan BPBD, DPUBMSDA, Perhutani, dan dinas terkait.
“Luapan air hujan yang mengakibatkan banjir ini yaitu air dari utara bertemu dengan luapan air dari Gunung Watangan, Dusun Kepel, Desa Wuluhan,”katanya.
Selain itu, ada tanggul sungai yang jebol, sehingga air menjadi satu dan meluber kemana-mana.
“Banjir di Dusun Kepel yang paling parah,”ucap Soleh.
Pihaknya berharap DPUBMSDA Jember segera melakukan pengerukan sungai agar tidak dangkal. “Ada juga tanggul yang jebol. Khawatir hujan terus-menerus lagi, air akan tetap meluap ke rumah warga,” jelasnya.
Yayuk, warga setempat, mengaku saat hujan deras air mulai naik.
Bahkan, ketinggian air di dalam rumah hingga seleher orang dewasa.
"Saya tidak berani lagi kembali ke rumah karena masih sering hujan. Di dalam rumah bukan hanya air saja, tetapi juga bercampur lumpur,” ucapnya.
Sementara itu, Jumari, warga setempat, sempat kesulitan keluar rumah. Sebab, air di halaman rumahnya cukup tinggi.
Bahkan, banyak barang hilang. Sepatu dan pakaian sekolah anaknya juga basah. (jum/c2/nur)
Editor : Radar Digital