JEMBER, RADARJEMBER. ID – Mencari tempat wisata bersama keluarga tidak perlu harus ke pantai atau tempat yang labih jauh. Dan tidak perlu menguras isi dompet.
Karena tempatnya tidak jauh. Seperti Perkebunan karet Adf Wonojati PTPN 12 Kebun Glantangan, Kecamatan Tempurejo, Jember bisa menjadi pilihan tempat yang paling nyaman.
Selain tidak mengeluarkan biaya banyak juga bisa betah dan berlama lama.
Awalnya memang tidak banyak yang mau datang, tetapi beberapa tahun terakhir ini justru menjadi tempat wisata.
Dan mulai banyak dikunjungi wisatawan lokal, yang datang juga dari luar kecamatan setempat. Bila hari minggu kendaraan roda empat banyak yang parkir dipinggir jalan menuju padang Golf Glantangan.
Yang datang, tidak perlu membayar tiket dan uang parkir baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat. Pengunjung yang datang bukan hanya ketika hari Minggu saja, tetapi hari hari bisanya juga banyak yang datang.
Hanya saja kalau hari Minggu lebih banyak datang sambil membawa keluarganya. Biasanya yang banyak datang kalau kalau sudah sore karena mulai dingin.
Demikian orang yang berjualan juga banyak, mulai dari es degan, kopi, mie rebus serta buah durian. Yang datang malah banyak yang menggunakan kendaraan roda empat.
Mereka parkir langsung masuk di bawah pohon karet ada juga yang memarkir kendaraan di pinggir jalan.
Pedagang sudah menyiapkan alas dengan tenda yang ukurannya 4 meter X 3 meter. Itupun ada beberapa tenda yang disiapkan untuk pembeli yang datang.
"Tetapi setiap pedagang sebelum berjualan harus membersihkan dulu daun karet serta ranting pohon kareta yang jatuh," kata Sarmina, 55, warga yang rumahnya tidak jauh dari tempat berjualannya.
Dia mengaku setiap harinya berjualan mulai dari pukul 09.00 hingga pukul 16.30 Wib.
Selama tiga tahun berjualan tempatnya tidak berpindah pindah. Yang dijual hanya kopi, camilan serta es degan dengan menggunakan gerobak yang ditempatkan dipinggir jalan.
“Setiap hari sebelum berjualan harus nyapu lebih dulu daun karet yang jatuh. Harus kita bersihkan dulu biar pembeli betah dan nyaman," imbuhnya.
“Biasanya yang paling banyak yang datang kalau hari libur, seperti Minggu dan hari libur lainnya. Seperti Hari Raya Idul Fitri dan tahun Baru itu lebih banyak. Biasanya kalau datang rombongan, sehingga tempatnya harus ditambah," katanya.
Namanya lesehan di bawah pohon karet resikonya kalau sudah ada angin.
Kadang ada ranting pohon karet yang patah. Bukan hanya yang sudah kering, tetapi ada ranting yang patah kalau ada angin. Sehingga orang yang datang ke warung juga harus hati hati.
Hal ini juga disampaikan Jasmin, 35, warga Desa Pondokrejo, Kecamatan Tempurejo. Setahun berjualan es degan dengan mie instan.
Dia juga mengaku pengunjung yang datang itu biasanya siang hingga sore kalau pas hari Minggu. Kalau hari hari biasa sebenarnya juga banyak yang datang.
Yang datang dengan kendaraan roda empat biasanya parkirnya masuk di bawah kebun karet dan langsung menuju alas dari terpal yang sudah disiapkan.
Sutrisno, 59, warga Dusun Krajan, Desa Tempurejo mengaku biasanya kalaum minggu memang rame. Yang datang bukan hanya warga tempurejo saja, tetapi dari luar kecematan juga banyak yang datang. Yang datang banyak yang menggunakan kendaraan roda. Sehingga mobil ada yang diparkir di bawah pohon karet dan dipinggir jalan.(jum/bud).
Editor : Radar Digital