Desa dalam genggaman tangan bukan hanya sebuah gagasan. Melainkan ikhtiar mengembangkan desa dengan inovasi pelayanan terpadunya. Melalui aplikasi, cukup sekali klik, kebutuhan langsung tertangani.
HOSNAN masih mengingat betul peristiwa menegangkan itu. Salah satu warganya mendadak harus segera dirujuk ke fasilitas kesehatan (faskes). Gara-garanya, penyakit kencing manisnya kambuh. Tindakan cepat sangat dibutuhkan.
Jarak ke faskes cukup jauh. Maklum, warganya itu berada di Dusun Gunung Gumitir, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo. Sebuah dusun di lereng Gunung Gumitir yang terletak di ujung timur Kabupaten Jember. Padahal, penanganan itu juga memerlukan surat-menyurat.
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Semestinya pelayanan surat dari pemerintah desa juga sudah tutup. Tetapi, tidak di Desa Sidomulyo. Surat-menyurat itu langsung terlayani. Cukup sekali klik di aplikasi, surat pengantar itu langsung jadi. “Cepat. Hanya hitungan menit surat sudah jadi dan bisa diunduh langsung. Saya mengisi datanya itu saat merujuk warga ke puskesmas,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di rumahnya, Selasa (17/10).
Aplikasi yang diceritakan itu bernama MallDesa. Sebuah aplikasi digital berisi beragam fitur yang dibuat atas kolaborasi pemerintah desa dengan peneliti dari Universitas Muhammadiyah Jember. Tentu, ide awalnya juga dari kepala desa setempat, Kamiluddin. Perawat kesehatan yang memilih mengabdikan diri untuk merawat warga dan pemerintahan desa itu memang gaspol sejak dilantik pada akhir 2021 lalu. Salah satu prioritasnya adalah digitalisasi desa.
MallDesa adalah aplikasi ketiga yang memadukan pelayanan publik dengan digitalisasi. Pada mulanya, Pemdes Sidomulyo hanya menerapkan QR code sebagai layanan publik. Tinggal scan code, maka ponsel sudah diarahkan ke browser layanan. Tapi, ini hanya melayani surat-menyurat. Tak berselang lama, Mas Kades, sapaan akrab Kamiluddin, beralih menggunakan aplikasi. Namanya Sidomulyo Pelayanan Terpadu (Sipadu). Isinya berupa layanan surat-menyurat, kegiatan pemerintah desa, pengaduan masyarakat, mitigasi bencana, dan berita seputar desa.
Akan tetapi, hal itu ternyata belum mengaver kebutuhan masyarakat. Masih banyak masyarakat yang memerlukan akses pelayanan yang lebih simpel. Terbitlah MallDesa. “Ini menggabungkan banyak fitur. Mulai dari administrasi, pengaduan, berita, mitigasi bencana, lapak UMKM, hingga pariwisata,” katanya.
Mas Kades menjelaskan, beragam fitur ini bagian dari penerapan desa digital. Sebagai desa digital pertama di Jember, aplikasi ini dinilai sangat membantu. Terutama pelayanan administrasinya. Sebab, pelayanan surat-menyurat itu bisa diakses dan didapatkan kapan saja serta di mana saja. Selama terhubung internet dan disetujui admin, satu klik pelayanan dapat terselesaikan.
Ini memang paling populer. Apalagi bagi warga di tiga dusun yang berada di kawasan hutan, yakni Dusun Gunung Gumitir, Tanah Manis, dan Garahan Kidul. Lokasinya yang jauh di tengah hutan dengan jalanan terjal berbatu membuat masyarakat merasa enggan repot-repot mengurus surat ke desa. Belum lagi jika hujan, atau tidak bertemu pimpinan desa. Alamak, bisa makin panjang dan lama pula urusannya.
Hal itulah yang menjadi dasar Mas Kades untuk fokus pada penyelesaian masalah dengan memberikan pelayanan seperti mal pelayanan publik digital. Jarak yang jauh, waktu yang lama, isu birokrasi ruwet, dan persepsi harus mengeluarkan biaya sekaligus antre di kantor desa dipangkas. Kesenjangan itu tidak ingin terus dipelihara. Meski berada di kawasan perbatasan, Mas Kades tak hanya berpangku tangan. Pelayanan on fire akan terus diberikan. Sesuai semangatnya, maju desanya, bahagia warganya.
Bagi Mas Kades, desa digital bukan hanya sebuah angan-angan. Melainkan usaha memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang terintegrasi. Hal penting dalam transformasi digital desa dengan digital government, digital society, dan digital economy. Desa dalam genggaman pun jadi nyata.
“Kami terus berinovasi. Kami berdayakan seluruh komponen masyarakat. Terutama para pemudanya, untuk menyosialisasikan MallDesa ke pelosok desa. Ini juga upaya kami mengembangkan digitalisasi desa yang dapat diakses seluruh masyarakat, khususnya Sidomulyo secara parsial. Maka, kami juga lengkapi dengan fitur lapak UMKM yang diharapkan mampu menggerakkan ekonomi desa. Termasuk pariwisatanya,” pungkasnya. (c2/nur)
Editor : Radar Digital