Boneka Emma, Inovasi Mahasiswa STIKes Bhakti Al-Qodiri Edukasi Menstruasi Remaja Tunagrahita

Sidkin • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 08:00 WIB
INOVASI: Mahasiswa STIKes Bhakti Al-Qodiri menjelaskan inovasi boneka EMMA dengan smart apron kepada Bupati Jember Muhammad Fawait. Boneka ini membantu remaja putri tunagrahita memahami tubuh dan siklus menstruasi. (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)
INOVASI: Mahasiswa STIKes Bhakti Al-Qodiri menjelaskan inovasi boneka EMMA dengan smart apron kepada Bupati Jember Muhammad Fawait. Boneka ini membantu remaja putri tunagrahita memahami tubuh dan siklus menstruasi. (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Boneka pink itu masih dipeluk erat ketika Bupati Jember Muhammad Fawait melintas seusai rapat paripurna, Senin (7/9) lalu.

Ada celemek kecil melekat di tubuhnya, membuatnya tampak berbeda di antara kesibukan lorong gedung DPRD. Langkah Gus Fawait pun terhenti, rasa penasaran membawanya mendekat kepada sekelompok mahasiswa yang membawa boneka tersebut.

Di balik wajah sederhana boneka itu tersimpan sebuah gagasan yang cukup serius.

Baca Juga: Suplai BBM Jember Digenjot 146,6 Persen, Pertamina Minta Warga Tak Panic Buying   

Namanya Emma, akronim dari Edukasi Menstruasi Mandiri, karya empat mahasiswa S1 Keperawatan STIKes Bhakti Al-Qodiri Jember, yakni Ali Zainal Abidin, Datin Afkarina Zain, Fidya Lail Hidayah, dan Ana Arifatus Sholeha, di bawah bimbingan Ns. Dwi Indah Lestari.

Emma dirancang menyerupai tubuh perempuan dengan gambaran anatomi dan dilengkapi mini apron. Lalu ada smart apron yang bisa dipakai dan digunakan untuk membantu anak mengenali perubahan tubuh hingga menghadapi menstruasi.

Di hadapan Gus Fawait, Datin menjelaskan satu per satu bagian yang membuat Emma berbeda. Mini apron digunakan untuk mengenalkan perubahan fisik saat pubertas, sementara smart apron menjadi bagian utama untuk belajar menghadapi menstruasi.

“Jadi boneka Emma ini terdapat dua item. Yang pertama yaitu mini-apron yang berfungsi untuk membantu anak tunagrahita dalam mengenali perubahan fisiknya saat mengalami pubertas. Dan juga yang kedua berupa smart apron, yang dilengkapi dengan enam kantong menstruasi yang membantu anak tunagrahita menghadapi menstruasi pertamanya,” kata Datin.

Baca Juga: Bisa Apes di Jalan! Satlantas Polres Jember Ingatkan Bahaya Buka Google Maps Sambil Jalan

Gagasan itu bermula dari sesuatu yang mereka temui di lapangan. Bagi sebagian remaja, menstruasi mungkin menjadi bagian alami dari tumbuh dewasa.

Namun bagi anak tunagrahita, perubahan tubuh dan bagaimana merawat diri ketika menstruasi datang bisa menjadi persoalan yang tidak sederhana.

Keterbatasan kognitif membuat materi yang hanya disampaikan lewat penjelasan sering kali sulit dipahami. Sehingga mahasiswa tersebut memilih pendekatan yang bisa dilihat, disentuh, dan dipraktikkan.

“Memang dikhususkan untuk tunagrahita, ya, karena anak tunagrahita itu mempunyai permasalahan pada kognitifnya sehingga mereka membutuhkan materi secara visual supaya lebih mudah memahaminya,” timpal Zainal, ketua tim.

Dari sana, Emma tidak hanya sekadar gagasan di atas kertas. Selama kurang lebih tiga bulan, inovasi tersebut telah diterapkan di SLB Negeri Jember.

Anak-anak diajak mengenali perubahan tubuh melalui mini apron, kemudian belajar mempersiapkan dan menghadapi menstruasi dengan bantuan smart apron yang memiliki enam kantong.

Perlahan, sesuatu yang sebelumnya membutuhkan banyak bantuan guru diupayakan menjadi keterampilan yang bisa dilakukan sendiri.

Harapannya sederhana, tetapi penting: membuat anak lebih percaya diri ketika tubuhnya mulai berubah.

Baca Juga: Jember Perkasa di Piala Soeratin Jatim 2026! 5 Tim Muda Resmi Amankan Tiket 16 Besar

Sebab menstruasi bukan hanya perkara datangnya darah setiap bulan, tetapi juga tentang bagaimana seorang anak mengenali tubuh, menjaga kebersihan diri, dan tahu apa yang harus dilakukan ketika menstruasi pertama datang.

“Kadangkala teman-teman (tunagrahita,Red) masih butuh bantuan gurunya untuk menghadapi menstruasinya itu. Jadi dengan adanya ini harapannya bisa membuat mereka bisa lebih mandiri saat menghadapi menstruasi,” tutur Datin.

Pertemuan dengan Gus Fawait menjadi bagian kecil dari perjalanan itu. Bupati mengaku bangga melihat mahasiswa Jember menghasilkan inovasi yang tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga menyentuh kebutuhan kelompok yang membutuhkan perhatian.

Ia juga berkomitmen untuk memberikan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi.

“Saya atas nama Pemerintah Kabupaten Jember bangga, Jember tidak kehabisan anak-anak yang berprestasi, mulai dari akademik maupun non akademik. Kami akan memfasilitasi, terutama mahasiswa. Yang berprestasi bisa ikut serta mendaftarkan dalam program beasiswa Cinta Bergema,” pungkasnya.

Untuk diketahui, inovasi ini bermula dari proposal yang mereka ajukan untuk Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Proposal berjudul “Siklus Mandiri: Pelatihan Personal Hygiene Menstruasi bagi Remaja Putri Tunagrahita di SLB Negeri Jember melalui Media Boneka Edukasi Smart-Apron” itu pun berhasil lolos pendanaan PKM bidang pengabdian masyarakat.

Bahkan, mereka akan melaju ke tingkat nasional untuk dijaring dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang akan digelar di Semarang. (kin/dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
stikes bhakti al-qodiri tunagrahita inovasi pendidikan