Radar Jember - Suara sabetan batang rotan sepanjang satu setengah meter memecah riuk angin pesisir di area Cagar Budaya Pelindungan Jepang, Desa Cakru, Kecamatan Kencong.
Di tengah lingkaran penonton yang berjejal, dua pria bertelanjang dada berdiri saling berhadapan. Kulit punggung mereka memerah, namun mata mereka memancarkan keberanian tanpa sedikit pun menyimpan dendam.
Itulah ojung. Kesenian sekaligus tradisi adu fisik sakral khas masyarakat Tapal Kuda yang sempat tidur panjang selama bertahun-tahun terakhir.
Baca Juga: Jember Dikepung Kekeringan, Baret Rescue Sindir Amunisi BPBD yang Pas-pasan - Radar Jember
Sore itu, dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah desa setempat memanggil pulang ingatan kolektif warga. Bertahun-tahun meredup hingga tak dikenal generasi muda, ojung dihadirkan kembali ke permukaan.
Tak tanggung-tanggung, ratusan pendekar dari Jember hingga kabupaten tetangga, Lumajang, juga turun gunung untuk menjajal ketangkasan fisik. "Kami ingin silaturahmi," aku Rizal, salah seorang pendekar yang mengikuti ojung saat itu.
Bagi warga pesisir selatan, ojung bukan sekadar pertunjukan adu otot. Sejarah mencatat, tradisi ini adalah laku ritual leluhur untuk memohon guyuran hujan saat kemarau panjang melanda. Lebih dari itu, sabetan rotan ojung diyakini sebagai penolak bala serta ungkapan rasa syukur atas limpahan panen dan keselamatan.
Aturannya lugas dan tegas. Dua pendekar beradu secara bergantian. Satu menyerang mengincar punggung, satu bertugas menangkis menggunakan benteng rotannya. Seorang wasit berdiri mengawasi ketat setiap jengkal gerakan.
Baca Juga: Sebut Jember Hipermarket Bencana, DPRD Semprot Pemkab Soal Anggaran BPBD yang Anjlok
Namun, puncaknya bukan saat rotan mendarat di kulit lawan, tetapi saat peluit panjang dibunyikan. Begitu ronde usai, kedua pendekar yang tadinya saling sabet seketika melempar senyum, maju beriringan, lalu saling berpelukan erat.
Saling memaafkan. Di atas gelanggang, kekuatan fisik diuji; di luar gelanggang, persaudaraan diikat abadi.
"Ojung ini memang sudah hampir punah. Saya sangat mengapresiasi tradisi nenek moyang kita yang berhasil diangkat kembali ini," kata Camat Kencong, Ronny Arvianto, di lokasi acara.
Ronny tak ingin kebangkitan ojung berhenti sebagai hiburan sesaat di tingkat desa. Ia berharap ojung tak hanya jadi agenda lokal desa, tapi bisa berkembang ke tingkat kabupaten, bahkan nasional. "Syukur-syukur menjadi identitas budaya yang selalu hadir di setiap momen penting," harapnya.
Antusiasme warga menjadi bukti betapa rindunya masyarakat pada warisan luhur ini. Ribuan pasang mata memadati area cagar budaya hingga ke celah terkecil. Bagi masyarakat yang hadir, momen ini menjadi tatap muka pertama mereka dengan identitas nenek moyangnya.
"Baru pertama kali lihat langsung. Tegang, tapi bangga sekali ternyata kita punya budaya yang luar biasa berani dan bernilai tinggi," aku Slamet, salah satu pengunjung di lokasi. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh