Radar Jember - Senyumnya mengembang saat menyambut tamu di lobi SMP Negeri 9 Jember, Rabu siang (29/7). Mengenakan kemeja putih, berkerudung, dan kacamata berbingkai hitam, Filza Isnaini mempersilakan duduk.
Tak tampak kesan canggung pada guru Bahasa Inggris itu, meski beberapa hari sebelumnya ia baru saja berdiri di hadapan ratusan pendidik dari berbagai daerah dalam iTELL Conference 2026 di Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja Bali.
Di forum internasional tersebut, Filza dinobatkan sebagai salah satu penerima Teacher Grant, program yang didukung Regional English Language Office (RELO) Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Penghargaan itu diraihnya setelah melewati seleksi ketat bersama 74 guru Bahasa Inggris dari seluruh Indonesia.
Baca Juga: APBD 2027 Diproyeksi Naik Rp200 Miliar, DPRD Jember Soroti Tunggakan PBB hingga Evaluasi Gubernur!
Dari jumlah tersebut, hanya 31 guru yang lolos, terdiri atas 15 guru dari Bali dan 16 guru dari luar Bali. Filza menjadi satu-satunya guru asal Jember yang berhasil masuk dalam daftar penerima tersebut.
Perjalanannya meraih penghargaan internasional itu tidak ditempuh dalam semalam. Perempuan berusia 30 tahun asal Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates itu merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Jember.
Semangat belajarnya pun belum berhenti. Saat ini ia masih menempuh pendidikan Magister Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Terbuka, sembari terus mengajar dan mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran di sekolah.
Kunci keberhasilannya justru lahir dari kegiatan belajar yang sederhana, tetapi konsisten dilakukan sejak Juni 2025. Filza menginisiasi student exchange virtual bersama pelajar Jepang melalui Zoom.
Awalnya hanya lima siswa yang bergabung. Seiring waktu, jumlah peserta bertambah menjadi sekitar 20 siswa.
Menariknya, setiap bulan siswa SMPN 9 Jember dipertemukan dengan sekolah yang berbeda di Negeri Sakura, sehingga pengalaman belajar mereka semakin kaya.
Pertemuan itu bukan sekadar latihan berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Di dalamnya, para siswa saling memperkenalkan budaya daerah masing-masing.
Anak-anak Jember mengenalkan budaya, batik, makanan khas, kesenian tradisional, hingga berbagai agenda tahunan seperti Jember Fashion Carnaval (JFC). Mereka juga bercerita tentang tradisi yang tumbuh di Jember.
Sebaliknya, para pelajar Jepang memperkenalkan budaya, kebiasaan, hingga kehidupan sekolah di negaranya.
"Dalam video itu saya melibatkan lima siswa SMPN 9 Jember. Program pertukaran pelajar virtual ini kami ikuti melalui informasi dari MGMP Bahasa Inggris. Topiknya berkaitan dengan multikultural dan penggunaan teknologi dalam pendidikan. Ternyata video tersebut lolos dan masuk kategori penerima Teacher Grant," tuturnya.
Video berdurasi sepuluh menit yang merekam praktik baik pembelajaran itulah yang kemudian dikirim sebagai syarat mengikuti seleksi Teacher Grant.
Berkat video tersebut, Filza tidak hanya memperoleh kesempatan mengikuti konferensi dengan dukungan penuh, tetapi juga dipercaya menjadi pemateri dalam sesi paralel melalui presentasi berjudul Speaking to Connect: Building Confidence and Cultural Understanding via Zoom.
Kesempatan belajar itu ternyata tidak dimulai ketika konferensi dibuka. Sebelum bertolak ke Singaraja, seluruh penerima Teacher Grant lebih dahulu mengikuti rangkaian pre-conference.
Pada tahap tersebut, para guru dari berbagai daerah saling bertukar pengalaman mengenai program pembelajaran yang telah diterapkan di sekolah masing-masing. Forum itu menjadi ruang berbagi praktik baik sekaligus saling memberi masukan sebelum dipresentasikan dalam konferensi utama.
Saat konferensi berlangsung pada 15–17 Juli lalu, Filza mengaku memperoleh banyak pengalaman baru. Selain mengikuti berbagai sesi presentasi, ia juga mendapatkan materi dari penyelenggara iTELL maupun narasumber internasional, termasuk perwakilan RELO Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Pembahasannya tidak hanya berfokus pada pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran Bahasa Inggris, tetapi juga bagaimana pendekatan pedagogi tetap menjadi fondasi utama agar teknologi benar-benar memberi dampak bagi proses belajar siswa.
"Saya sangat senang dan bangga. Melalui konferensi ini saya mendapatkan banyak pengetahuan, pengalaman, dan kesempatan berdiskusi tentang teknologi serta pedagogi dalam pendidikan," katanya.
Baginya, penghargaan tersebut bukanlah garis akhir. Filza berharap semakin banyak guru di Jember berani membawa praktik-praktik baik yang lahir dari ruang kelas ke forum nasional maupun internasional.
Kepala SMP Negeri 9 Jember Khulashah mengaku bangga atas capaian yang diraih salah satu gurunya tersebut. Menurutnya, keberhasilan Filza membuktikan bahwa inovasi pembelajaran yang lahir dari sekolah negeri di daerah mampu mendapat pengakuan hingga tingkat internasional.
"Alhamdulillah saya sangat bangga sekali terhadap guru-guru kami. Ternyata guru kami bisa go internasional, bukan hanya dikenal di lingkup Jember, tetapi juga mampu meraih penghargaan dan mengikuti kegiatan bertaraf internasional melalui program yang didukung Kedutaan Besar Amerika Serikat," ujarnya.
Menurut Khulashah, prestasi tersebut juga menjadi motivasi bagi seluruh tenaga pendidik di SMPN 9 Jember untuk terus berkarya dan berbagi praktik baik dalam dunia pendidikan.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh Filza tidak berhenti sebagai prestasi pribadi, tetapi dapat menular kepada guru-guru lainnya sehingga membawa dampak positif bagi kualitas pembelajaran di sekolah.
"Semoga pengalaman yang diperoleh Ibu Filza bisa ditularkan kepada guru-guru lain, khususnya di SMPN 9 Jember dan Kabupaten Jember," pungkasnya. (kin)
Editor : Imron Hidayatullahh