Bawa Mobil Perpustakaan dan Lulusan Universitas Jepang ke Karangpring, SBS Ajak Puluhan Santri Sukorambi Berani Bermimpi Besar

M Adhi Surya • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 06:00 WIB
MINAT BACA: Santri YPP Miftahussaadah Sukorambi serbu mobil perpustakaan keliling, Sabtu (25/7). (M. ADHI SURYA/RADAR JEMBER)
MINAT BACA: Santri YPP Miftahussaadah Sukorambi serbu mobil perpustakaan keliling, Sabtu (25/7). (M. ADHI SURYA/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Minat baca anak di wilayah pedesaan terus menjadi perhatian.

Salah satu upaya yang dilakukan ialah mendatangkan layanan perpustakaan keliling ke Yayasan Pondok Pesantren (YPP) Miftahussaadah, Dusun Durjo, Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi, ratusan buku yang dibawa langsung menjadi buruan puluhan santri.

Sejak mobil perpustakaan tiba, Sabtu (25/7) para santri bergantian memilih buku yang tersusun di rak-rak baca.

Baca Juga: Gedung Jember Nusantara Disulap Jadi JCC, Siap Tampung Ratusan Anak Muda Kreatif

Koleksi cerita anak, ilmu pengetahuan, hingga buku motivasi paling banyak diminati.

Suasana yang semula lengang berubah ramai dengan anak-anak yang asyik membaca bersama di halaman pesantren.

Ketua Semasa Bright Scholar (SBS) Karima menilai, budaya membaca tidak cukup hanya diajarkan di sekolah, tetapi juga perlu dibangun dengan menghadirkan akses bacaan yang mudah dijangkau.

Menurutnya, semakin sering anak bertemu dengan buku, semakin besar pula peluang tumbuhnya kebiasaan membaca.

"Di SBS kami sudah banyak belajar, saatnya kami untuk berbagi dan memberi manfaat yang lebih luas," ujarnya.

Baca Juga: Tak Hanya KIP Kuliah, Mahasiswa Jember Punya Banyak Pilihan Beasiswa yang Masih Jarang Diketahui

Selain membaca buku, para santri mengikuti sesi motivasi bersama Sandra Wijaya, putra asli Dusun Durjo yang berhasil menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, hingga Nagasaki University, Jepang.

Ia mendorong anak-anak agar tidak menjadikan asal daerah sebagai penghalang untuk bermimpi besar.

"Kami hanya ingin memastikan bahwa anak desa juga memiliki kesempatan yang sama untuk meraih mimpinya. Dunia tidak terlalu luas selama kaki mau melangkah, maka batas wilayah hanyalah usia," kata Sandra di hadapan para santri.

Para santri diajak menyampaikan cita-cita mereka dalam kelompok kecil. Masing-masing kemudian menuliskan impiannya di selembar kertas yang dilipat menjadi pesawat.

“Cara itu untuk membangun keberanian anak mengungkapkan harapan sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri,” pungkasnya. (dhi/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
Jember literasi anak santri SUKORAMBI gemar baca buku